KONSORSIUMHADIS.COM

| PUSAT REFERENSI & STUDI HADITS | JLN PANGLIMA HIDAYAT NO 5B PUCANGANOM SIDOARJO JAWA TIMUR INDONESIA |

HOME » AYAH (REDPEL)

AYAH (REDPEL)

POSTED BY TURATSNABAWI CATEGORIES: ARTICLE_OTHERS

PENULIS : MASROKAN

Ayah, Engkaulah Pemandu Ilmu

Sebagian ayah merasa kehabisan waktu untuk bekerja sehingga lalai mendidik keluarga. Bagaimana seharusnya?

Ayah adalah tulang punggung keluarga. Di pundaknya ada tanggung jawab untuk menafkahi orang-orang yang menjadi tanggungannya.

Untuk memenuhi kewajiban itu, mutlak baginya untuk bekerja keras sekaligus cerdas. Tidak sepantasnya seorang lelaki penanggung jawab keluarga bersikap malas, bertopang dagu, dan enggan bekerja. Ajaran Islam jelas melarangnya, apalagi sampai menelantarkan keluarganya.

Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabada, “Cukuplah dosa bagi seorang yang menyia-nyiakan orang yang seharusnya dia beri makan.” Di dalam riwayat yang lain, “Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa orang-orang yang menahan makan (upah dan sebagainya) orang yang menjadi tanggungannya.” (Riwayat Muslim).

Menjadi sebuah kebaikan bagi lelaki bila senantiasa bersemangat bekerja mencari nafkah. Meski berlelah-lelah hingga senja, ia tak merasa terbebani. Di situlah justru jiwanya bahagia.

Dia meyakini bahwa di balik kelelahannya mencari nafkah ada pahala yang sangat besar. Memang seperti itulah karakter yang mesti dimiliki oleh seorang lelaki yang telah berstatus sebagai suami bagi istri dan ayah bagi anak-anaknya.

Ada kabar gembira berupa pahala yang besar bagi mereka yang bekerja keras demi menafkahi keluarga. Dari Sa’id bin Abi Waqqash RA, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya bagaimanapun nafkah yang kau berikan kepada istrimu, maka itu merupakan sedekah, bahkan sesuap makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” (Riwayat Bukhari No 2591).

Bahkan lelaki yang meninggal saat mencari nafkah akan mendapat ampunan dari Allah SWT. Siapa yang benar-benar mencari dan menekuni pekerjaan halal, baginya dicatat sama dengan mereka yang berjihad di jalan Allah.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang bekerja dan terampil. Siapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka ia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah.” (Riwayat Ahmad).

TUGAS MENDIDIK KELUARGA

Menjadi sebuah kebaikan bagi seorang lelaki bila hari-harinya disibukkan dengan bekerja. Namun perlu diingat, tugasnya tidak cuma berkewajiban mencari nafkah. Tak kalah pentingnya adalah mendidik istri dan anak-anakya. Sehingga tak sepatutnya bila seorang ayah hari-harinya hanya dihabiskan untuk bekerja, lantas lupa akan kewajibannya untuk mendidik keluarga.

Sebagian ayah enggan belajar dan mengajar bersama anak dan istrinya. Alasannya, ia telah bekerja seharian. Sepulang kerja badannya lelah. Tugas mendidik istri dan anak pun menjadi terabaikan.

Bekerja mencari nafkah adalah ikhtiar agar anak dan istri terhindar dari kesulitan di dunia. Adapun mendidik merupakan ikhtiar untuk menghindarkan mereka dari kesengsaraan di dunia sekaligus akhirat.

Dengan bekal ilmu, segala persoalan hidup di dunia akan terselesaikan dengan baik. Seseorang juga akan mampu mengenali jalan yang lurus dan jalan yang bengkok.

Dengan ilmu, manusia juga akan memahami bahwa segala yang dikerjakan di dunia ini akan dibalas. Kebaikan akan dibalas surga, sedangkan kemaksiatan akan dibalas siksa. Sehingga seseorang akan berhati-hati dan selalu berusaha menempuh jalan kebaikan. Dengan jalan itu, dia berpeluang selamat dari azab di akhirat.

Seperti itulah pentingnya seorang ayah harus mendidik anak dan istrinya. Bukan hanya berkewajiban menyelamatkan keluarga dari kesengsaraan dunia, tapi juga di akhirat kelak.

Terkait kewajiban di atas, Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim [66]: 6).

Terkait ayat “Peliharah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, Ali bin Abi Thalib menafsirkan, “Ajarilah diri kalian dan keluarga kalian kebaikan.” (Lihat Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Manhaj at Tarbiyyah an-Nabawiyyah lith Thifl, hal 49).

Dengan hujjah ayat di atas, maka tak ada ruang bagi seorang ayah untuk mengesampingkan kewajiban mendidik anak dan istri. Bahkan, dalam konteks kepentingan masa depan yang lebih jauh, mendidik anak dengan agama dan kebaikan jauh lebih penting daripada hanya sekadar memberi nafkah. Dalam pandangan Islam, pemberian terbaik untuk anak kita bukanlah harta materi, tapi pendidikan adab dan agama.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang bapak memberikan pemberian kepada anaknya sesuatu yang lebih baik dibandingkan adab yang terpuji.” (Riwayat al-Hakim No 7679).

MEMBANGUN KELUARGA BERILMU

Keluarga merupakan pilar kebaikan bagi agama dan negara. Jika keluarga-keluarga yang ada ini baik, maka kehidupan di tengah masyarakat juga akan baik. Jika keluarga yang ada ini cinta ilmu, maka masyarakat dan negeri ini juga akan menjadi cerdas dan maju.

Untuk itu, seorang ayah mutlak untuk menumbuhkan kultur belajar di tengah keluarganya. Tak sepatutnya seorang ayah membiarkan anak dan istrinya tak berilmu. Sesibuk apapun seorang ayah mencari nafkah, seyogyanya tetaplah berkenan meluangkan waktu untuk belajar bersama anak dan istrinya.

Seorang ayah mesti sadar bahwa dialah pemimpin bagi keluarga dan akan bertanggung jawab terhadap orang yang dipimpinnya. Karena sebagai pemimpin, mestinya ia lebih berilmu daripada orang yang dipimpinnya.

Seorang ayah mesti terus belajar, banyak membaca, dan banyak berinteraksi dengan ilmu. Dengan begitu, dari waktu ke waktu cakrawala pengetahuannya makin bertambah.

Untuk kebutuhan itu, seorang ayah mesti terus menjaga spirit belajar. Sebab dalam kaedah berlaku, “Yang tidak memiliki sesuatu, maka ia tak akan mampu memberi sesuatu.”

Bagaimana mungkin, seorang ayah bisa menjadi pendidik yang baik bagi anak dan istrinya, bila ia sendiri belum memiliki ilmu yang cukup?

Bagaimana mungkin, seorang ayah bisa mencerahkan anak dan istrinya, bila jiwanya sendiri saja belum tercerahkan?

Bagaimana mungkin, seorang ayah dapat membangun kultur belajar di dalam rumahnya, bila ia sendiri enggan untuk belajar?

Penting kiranya seorang ayah cerdas mengatur hari-harinya. Sesibuk apapun dalam bekerja sehari-hari, hendaknya tetap meluangkan waktu untuk belajar dan membangun kultur belajar di tengah keluarga. Bermula dari kultur belajar yang terbangun ini kita berharap keluarga menjadi keluarga berilmu. Selanjutnya dari kumpulan keluarga berilmu ini, kita berharap akan terbangun sebuah komunitas masyarakat yang berilmu dan berperadaban mulia.* Masrokan, guru SMP Integral Hidayatullah Kendari/Suara Hidayatullah


  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube