KONSORSIUMHADIS.COM

| PUSAT REFERENSI & STUDI HADITS | JLN PANGLIMA HIDAYAT NO 5B PUCANGANOM SIDOARJO JAWA TIMUR INDONESIA |

HOME » HIKMAH_NIKMATNYA BERJIHAD (REDPEL)

HIKMAH_NIKMATNYA BERJIHAD (REDPEL)

POSTED BY TURATSNABAWI CATEGORIES: ARTICLE_OTHERS

PENULIS : MASROKAN

NIKMATNYA BERJIHAD

Namanya Farrukh, budak ar-Rabi’ bin Ziyad al-Haritsy, Gubernur Khurasan, penakluk Sajistan, dan komandan yang gagah berani.

Suatu ketika Farrukh mengikuti panglima ar-Rabi’ dalam memimpin pasukan. Mereka bergerak menuju tanah-tanah terjal di antara perbukitan guna merangsek musuh. Kaum Muslimin akhirnya meraih kemenangan gemilang.

Di medan laga itu, Farrukh turut tampil gagah dan tangkas. Ar-Rabi’ menjadi kagum dan menghargai budaknya. Akhirnya Farrukh dimerdekakan.

Ar-Rabi’ juga menghadiahi ghanimah (harta rampasan perang) dan berbagai pemberian secara pribadi. Dan dua tahun kemudian, ar-Rabi’ meninggal dunia.

Farrukh yang saat itu berusia 30 tahun kemudian kembali ke Madinah. Dengan bekal yang diterimanya, ia bisa membangun rumah tipe menengah. Farrukh juga menikah dengan seorang wanita yang cerdas dan berakhlaq baik.

Ternyata rumah nyaman dan istri rupawan tak membuatnya hidup santai. Hasratnya untuk kembali ke medan laga selalu membara. Ia rindu mendengar suara gemerincing pedang saling bersabetan.

Suatu saat di hari Jum’at, khathib Masjid Nabawi mengabarkan berita kemenangan pasukan Muslim di berbagai medan peperangan. Khatib juga mengajak jamaah untuk berjihad di jalan Allah SWT dan mencari syahid demi meninggikan agama-Nya.

Farrukh bergegas pulang untuk menyambut seruan itu. Tanpa basa basi, niatnya disampaikan kepada sang istri.

 “Wahai Abu Abdirrahman, kepada siapa engkau titipkan diriku dan jabang bayi yang sedang aku kandung ini? Sebab di Madinah ini engkau adalah orang asing yang tidak mempunyai keluarga dan sanak saudara,” kata istrinya.

Dengan tegas Farrukh berkata, “Aku titipkan kamu kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Aku telah meninggalkan untukmu 30 ribu dinar yang aku kumpulkan dari ghanimah. Jaga dan investasikanlah harta itu. Belanjakanlah untuk dirimu dan anakmu dengan baik hingga aku pulang dengan selamat atau Allah karuniakan kepadaku syahid yang aku cita-citakan.”

Dia kemudian berpamitan dan pergi memburu cita-citanya. (Diolah dari kitab Shuwaru min Hayati at-Tabi’in karya Abdurrahman Ra’fat Basya, hal 125-128).

MELEJITKAN KEMULIAAN DIRI

Jihad adalah amal istimewa dan bukti puncak keimanan. Bila seseorang memiliki iman dan ketakwaan yang baik, pasti akan berusaha merealisasikannya.

Dengan berjihad, seseorang akan mendapat derajat yang tinggi. Meski sama-sama beriman, orang yang berjihad memiliki derajat lebih tinggi daripada yang tidak berjihad.

Allah SWT berfirman, “Tidaklah sama antara Mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduksatu derajat. Kepada masing-masing, Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang dudukdengan pahala yang besar. Yaitu beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (an-Nisa’ [4]: 95-96).

Bahkan Ibnu Mubarak berpendapat, orang yang berjihad lebih utama dibanding orang yang hanya beribadah, berdzikir, dan memakmurkan Masjidil Haram. Demi meraih kemuliaan itu, beliau keluar dari Masjidil-Haram untuk berjihad. Di medan perang, dalam sehari Ibnu Mubarak mampu membunuh tujuh orang kafir.

Ulama sezamannya, Fudhail bin Iyyadh, kemudian menulis surat, “Engkau telah meninggalkan kami, Masjidil Haram, dan majelis ilmu.”

Ibnu Mubarak menjawab, “Wahai ahli ibadah di dua Masjid Haram, jika engkau melihat kami, niscaya engkau akan tahu bahwa dalam beribadah engkau hanya bermain-main. Barangsiapa yang mambasahi pipinya dengan air mata, maka leher-leher kami berlumuran dengan darah, atau orang yang hanya menyia-nyiakan kuda, maka kuda-kuda kami pada pagi hari telah berpacu menyerang musuh.”

MENJAGA MARTABAT

Berjihad merupakan jalan untuk menjaga kehormatan. Dengan jihad yang terus ditegakkan, umat Islam akan memiliki izzah (kehormatan) di hadapan orang kafir.

Dalam sejarahnya, berkat semangat jihad yang terus bergelora, umat Islam selama 14 abad bisa berjaya. Namun ketika semangat jihad ini mulai terkikis, kehinaan demi kehinaan pun menimpa.

Kini umat Islam diremehkan. Teriris-iris hati ini, kala melihat jumlah umat Islam mayoritas namun terus menjadi sasaran fitnah. Dilabeli dengan sebutan-sebutan negatif. Para ulama dikriminalisasi.

Di belahan dunia lain, umat Islam pun mendapat perlakuan keji dan terus menjadi sasaran kezhaliman. Dijajah, dirampas harta dan tanahnya, dirusak kehormatannya. Sungguh tragis. Umat Islam bagaikan hidangan yang diperebutkan orang dari segala penjuru

Rasulullah SAW pernah mengingatkan, “Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah dan kalian telah disibukkan memegang ekor-ekor sapi dan telah senang dengan bercocok tanam dan juga kalian telah meninggalkan jihad, niscaya Allah akan timpakan kehinaan kepada kalian, tidak akan dicabut atau dihilangkan kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (Riwayat Abu Dawud no 3003, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Belajarlah pada Farrukh. Dunia beserta segala fasilitasnya tak mengikis kecintaan dan kerinduan untuk berjihad.

Bahkan Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang meninggal sementara ia tidak pernah berperang (berjihad) dan tidak pernah meniatkan untuknya, maka ia mati di atas cabang kenifakan.” (Riwayat Muslim).

MERINDU SERUAN JIHAD

Jihad adalah amal yang berat bagi nafsu. Namun di balik beratnya ini ada kemuliaan. Untuk itu, kecintaan kepada jihad sudah semestinya terus kita ditumbuhkan.

Jihad dalam hal ini tidak mesti dimaknai perang. Seperti dijelaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, jihad itu ada empat tingkatan.

Pertama, jihad melawan hawa nafsu. Kedua, jihad melawan setan. Ketiga, jihad melawan orang kafir. Keempat, jihad melawan tokoh-tokoh yang zhalim, pelaku bid’ah, dan kemunkaran.

Sungguh, amal jihad ini bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Seorang pemuda bisa berjihad dengan cara bersungguh-sungguh belajar agama di saat sebagian besar pemuda berfoya-foya. Seorang pejabat bisa berjihad dengan cara berperilaku jujur di tengah merajalelanya kebohongan dan penipuan. Seorang guru bisa berjihad dengan cara bersungguh-sungguh mendidik siswa untuk mencintai agamanya. Dan seterusnya.

Mari terus mentarbiyah diri dan anak-anak kita agar spirit jihad untuk melawan orang kafir yang telah menzhalimi umat Islam ini terus tumbuh dan bersemi. Kita juga tak boleh lupa untuk mempersiapkan diri dengan segala potensi yang ada, agar kelak saat ada seruan jihad dari pemimpin umat atau ulama, kita telah siap untuk menyambutnya.* Masrokan, guru SMP Integral Hidayatullah Kendari/Suara Hidayatullah


  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube