KONSORSIUMHADIS.COM

| PUSAT REFERENSI & STUDI HADITS | JLN PANGLIMA HIDAYAT NO 5B PUCANGANOM SIDOARJO JAWA TIMUR INDONESIA |

HOME » JUJUR SEJAK DINI (REDPEL)

JUJUR SEJAK DINI (REDPEL)

POSTED BY TURATSNABAWI CATEGORIES: ARTICLE_OTHERS

PENULIS : CHOIRUNISA KARINA

Mengajari Jujur Sejak Dini

 “Adik, lantai di ruang tamu kok basah. Adik main air yah?”

Nggak kok, Ma.”

Lha, itu baju adik basah semua…”

Sang anak terdiam sejenak. Ia tampak bingung ingin menjawab apa. Niat hati ingin berbohong, tapi tidak berjalan mulus karena tertangkap basah oleh sang ibunda.

“Iya, tadi adik mau minum, terus tumpah. Jadinya, basah deh lantainya,” akunya kemudian.

Ibunda hanya melempar senyum. Tanpa harus marah-marah, sang anak bergegas diajak mengganti bajunya yang basah.

***

Sebagaimana orang dewasa, anak kecil pun sanggup berbohong. Bahkan, ada yang melakukannya sejak usia dua tahun, di saat perbendaharaan kata-katanya masih sangat terbatas. Kok bisa?

Biasanya anak berbohong karena ingin menutupi kesalahan yang diperbuatnya, agar tidak dimarahi atau mendapat hukuman dari orangtua. Ini kebanyakan dialami anak-anak yang orangtuanya killer dan menginginkan anaknya selalu tampil perfect (sempurna).

Menurut Laura Markham, penulis buku Peaceful Parents, Happy Kids, alasan anak berbohong kurang lebih sama dengan alasan orang dewasa. Mereka merasa hal itu akan membantu dan membuat orang lain merasa lebih baik.

Bahayanya, kalau anak telanjur menganggap kebohongan itu adalah strategi yang efektif, maka akan terus melakukan dan mengulanginya hingga menjadi kebiasaan kelak. Ini perlu diperhatikan.

Yang lebih harus diperhatikan, kadangkala orangtualah yang menjadi penyebab anak menjadi pembohong. Bagaimana ceritanya?

Tanpa sadar, seringkali orangtua mengajari anak untuk berbohong. Misalnya ketika ada seseorang yang datang mencari ayah, ia lantas berkata kepada anaknya, “Beritahu saja ayah tidak ada di rumah.”

Ini termasuk dosa sebab telah mendidik anak untuk berbohong, meskipun tanpa orangtua sadar. (Fiqh TarbiyyatilAbna’, hal 243).

Lantas, bagaimana caranya agar kasus seperti itu tak menimpa keluarga kita?

Pertama, orangtua selayaknya memberikan teladan dengan perbuatan dan perkataan jujur.

Anak-anak adalah peniru andal. Kalau orangtua mampu untuk konsisten menunjukkan sikap serta tutur kata yang jujur, mereka akan merekam dalam benaknya. Lalu, mencontoh dengan bentuk perbuatan atau perkataan yang jujur pula.

Jika ingin anak-anak bersikap jujur, berusahalah mengatakan yang sebenarnya kepada mereka. Meski menurut kita, mungkin mereka masih terlalu kecil untuk memahami konsep kebenaran atau kebohongan.

Seringkali kita mengalihkan perhatian anak pada sesuatu yang sebetunya tidak ada. Atau dengan janji palsu agar anak mau tenang serta menuruti kemauan orangtua. Padahal, semuanya tak pernah dipenuhi sehingga menjadi sebuah kebohongan.

Diriwayatkan oleh Ibn Aamir, dia berkata: “Suatu hari ibuku memanggilku. Sementara Nabi ada di rumah kami. Lalu ibu berkata, ‘Kemarilah, aku akan memberimu sesuatu.’ Kemudian Nabi bertanya, ‘Apa yang akan engkau berikan kepadanya?’ Ibu menjawab, ‘Kurma’. Nabi kemudian berkata, ‘Seandainya kau tidak memberikan apapun kepadanya, itu akan dicatat sebagai kebohongan.‘” (Riwayat Abu Dawud dan al-Baihaqi).

Hadits ini merupakan pengingat bagi orangtua agar berhati-hati dalam berkata. Jika menjanjikan sesuatu untuk anak, maka tepatilah. Jika janji itu tidak terbukti, maka tergolong dusta. Kelak hal itu akan dihitung sebagai dosa. Juga akan menimbulkan luka pada hati anak karena merasa dikhianati. Dari situ pula anak akan belajar kalau berbohong boleh-boleh saja.

Syaikh Musthafa al-‘Adawi  berkata, “Jika orangtua sudah mengingkari janji pada anaknya, maka hilanglah kepercayaan dari anak pada orangtua. Bagaimana jika orangtua sampai mengajarkan secara langsung anaknya untuk mengingkari janji? Tentu nantinya anak tidak lagi percaya kepada orangtuanya sendiri.”

Kedua, menjelaskan kepada anak mengenai arti pentingnya kejujuran, hal yang amat dijunjung tinggi dalam ajaran Islam.

Saat mendapati anak berbohong, kadang orangtua merespon dengan sikap yang berbeda. Ada yang sekadar menganggap remeh karena masih anak-anak. Ada yang bersikap reaktif sampai mendesak mereka agar mengakuinya. Kalau tidak, hukuman pun siap menanti.

Sikap yang demikian kurang tepat. Jika orangtua diam bahkan meremehkan, maka jangan salahkan kalau perbuatan bohong tersebut menjadi kebiasaan anak di masa remaja. Sejak dini tanpa sengaja orangtua telah mendidik anaknya untuk berbohong.

Jangan pula terlalu reaktif bahkan sampai mengancamnya dengan hukuman. Bangunlah komunikasi yang baik agar terjalin kedekatan dengan anak. Baru kemudian menjelaskan tentang arti sebuah kejujuran dan bahayanya dusta.

Sahabat ‘Abdullah bin Mas’udRA menjelaskan tentang keutamaan sikap jujur dan bahayanya sikap dusta, berdasar sabda Rasulullah SAW:

Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur. Sebab, kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (Riwayat Muslim no 2607).

Ketiga, kenalkan dan pahamkan kepada anak bahwa Allah Maha Melihat.

Perlu ditanamkan keyakinan kepada anak bahwa di manapun dan kapanpun mereka berbohong, meskipun tanpa diketahui orang lain, masih ada Allah Yang Maha Melihat. Dia akan selalu mencatat setiap perilaku buruk yang mereka lakukan.

Lalu bagaimana orangtua bisa mengetahui anak-anaknya tetap berperilaku jujur atau tidak meski berada di luar rumah?

Percayalah, ketika kita menitipkan anak-anak pada Sang Khaliq, di saat anak-anak jauh dari jangkauan kita, maka apa yang dilakukan anak-anak pasti akan Allah SWT tunjukkan kepada kita. Tak perlu khawatir berlebihan.

Keempat, berikan pujian atas kejujurannya.

Setelah anak terbiasa berkata dan bersikap jujur, maka jangan diam saja. Berikan pujian agar anak mengerti bahwa kita sebagai orangtua sangat menghargai kejujurannya.

Misalnya dengan mengatakan, “Mama tahu adik sangat sulit untuk mengatakan yang sebenarnya. Mama sangat bangga karena adik mau terbuka dan terus terang.”

Semoga Allah SWT memudahkan kita dalam mendidik anak-anak dengan akhlaq yang luhur sehingga kelak mereka menjadi anak-anak yang shalih, berbakti pada orang tua, dan bermanfaat untuk agama dan bangsa ini. Amin.* Choirunisa Karina/Suara Hidayatullah


  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube