KONSORSIUMHADIS.COM

| PUSAT REFERENSI & STUDI HADITS | JLN PANGLIMA HIDAYAT NO 5B PUCANGANOM SIDOARJO JAWA TIMUR INDONESIA |

HOME » KRITIK MUHAMMADIYAH ATAS KETIDAKPASTIAN METODE RUKYAT

Memang naif ketika bangsa Barat telah puluhan tahun lalu menginjakkan kaki di bulan, umat Islam di Indonesia kini masih meributkan soal penampakan bulan baru. Begitu kira-kira suara sebagian masyarakat.

Muhammadiyah sendiri tentu punya alasan mengapa lebih memilih metode hisab.

Penentuan bulan baru dengan rukyat dianggap sudah tidak relevan saat teknologi satelit dan ilmu astronomi berkembang pesat. “Penentuan bulan baru dengan rukyat dianggap sudah tidak relevan saat teknologi satelit dan ilmu astronomi berkembang pesat”

Bagaimanapun, rukyat tidak dapat memberikan suatu penandaan waktu yang pasti dan komprehensif.

Konsekuensinya, umat islam tidak bisa menata waktu pelaksanaan ibadah secara selaras di seluruh dunia. (lihat: Penjelasan Teknis Hisab Muhammadiyah).

Bagaimanapun Rukyat tidak dapat memastikan penanggalan jauh ke depan karena awal bulan hanya bisa diketahui pada H-1 melalui pengamatan langsung. Konsekuensinya umat Islam tidak akan punya kalender yang pasti.

Meski umat Islam banyak mengacu pada Kalender Ummul Qura yang juga secara resmi digunakan Saudi, namun dalam penentuan bulan-bulan ibadah masih menggunakan Rukyat sebagai acuan.

Akibatnya, rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global.

Seperti kasus tahun 2014 lalu, pada hari yang sama ada muka bumi yang dapat melihat hilal (Saudi), tetapi ada muka bumi lain yang tidak dapat melihat (Indonesia).

Rukyat pada akhirnya justru memaksakan perbedaan umat Islam dalam menentukan hari raya.

“Akibatnya, rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global”

Muhamamdiyah percaya, solusi problematika penetapan bulan Qamariah di kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap metode hisab dalam penetapan awal bulan Qamariah, sebagaimana penggunaan metode hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat lima waktu. Dengan metode hisab inilah Muhammadiyah menyatakan dapat menentukan hari raya untuk 100 tahun ke depan sebagaimana yang selama ini dapat dilakukan pada kalender Masehi (Gregorian calendar).

_

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube