KONSORSIUMHADIS.COM

| PUSAT REFERENSI & STUDI HADITS | JLN PANGLIMA HIDAYAT NO 5B PUCANGANOM SIDOARJO JAWA TIMUR INDONESIA |

HOME » MENCARI DAN MENJAGA JODOH SEKUFU

MENCARI DAN MENJAGA JODOH SEKUFU

POSTED BY TURATSNABAWI CATEGORIES: ARTICLE_OTHERS

PENULIS : ABDUL GHOFAR HADI

“Sedang merenung apa, akhi?”

“Bukan merenung tapi berpikir.”

“Apa yang sedang antum pikirkan? Serius betul.”

“Begitu banyaknya akhwat yang ikut shalawat tarawih di masjid ini. Adakah jodoh saya di antara mereka? Saya selalu berpikir begitu setiap melihat akhwat, karena umur saya sudah mau kepala tiga tapi belum dipertemukan jodoh.”

“Oh… Subhanallah. Jodoh tidak cukup hanya dipikirkan, akhi.”

“Maksudnya?”

“Iya berdoa, ikhtiar untuk mencari identitas akhwat itu, datangi orangtuanya, dan tanyakan kesediaannya.”

“Sebenarnya ada saja akhwat yang mau, tapi saya merasa tidak sekufu. Ada yang saya anggap sekufu, tapi saya ditolak…”

“Berarti belum jodoh. Cari lagi dan coba lagi. Thomas Alfa Edison saja menemukan teknologi lampu pijar setelah mencoba hingga ribuan kali.”

“Apa hubungannya jodoh dengan lampu pijar?”

“Erat sekali. Kalau ingin meraih hasil maksimal, jangan pernah berputus asa.”

MISTERI

Jodoh adalah bagian dari rahasia Allah SWT. Walaupun sebenarnya semua peristiwa yang belum terjadi adalah rahasia Allah juga. Artinya, apa saja yang akan terjadi satu detik, jam, hari, pekan, bulan, dan tahun depan, manusia tidak bisa memastikan, termasuk urusan jodoh.

Jika sebatas memprediksi atau menduga-duga dengan beberapa asumsi, itu bisa saja. Tetapi hasilnya tetap spekulatif, bisa benar dan bisa salah. Jodoh adalah misteri yang sulit ditebak dan menimbulkan harap-harap cemas.

Membicarakan jodoh bagi orang yang belum ketemu jodohnya (belum menikah) memang selalu menarik. Bahkan menarik pula bagi yang sudah menikah, siapa tahu ada jodohnya lagi.

Sungguh tidak disangka-sangka, sulit diprediksi. Ada jodoh yang ternyata tetangga dekat. Terkadang jodohnya adalah orang jauh yang sama sekali tidak dikenal sebelumnya. Bermacam-macam jalannya. Unik, lucu, bahkan terkadang aneh.

Ada yang tanpa susah payah alias jodoh datang sendiri. Tapi ada juga yang mendapatkan jodoh dengan bersusah payah, salah satu faktornya karena merasa tidak ada yang sekufu.

BELAJAR DARI ISTRI-ISTRI RASULULLAH

Permasalahan kufu kadang menjadi penghalang seseorang untuk melamar atau mendapatkan jodoh. Sekufu atau kesepadanan, seringkali diartikan sempit hanya masalah umur, pendidikan, fisik, status sosial, hobi, karakter, atau kekayaan. Padahal sebenarnya sekufu bukan persyaratan apalagi rukun dalam pernikahan, namun cukup menjadi salah satu sebab keharmonisan rumah tangga.

Mungkin ada suami-istri yang bisa harmonis karena ada kesamaan-kesamaan di atas. Tapi itu tidak mutlak. Banyak juga suami-istri yang jauh dari kriteria sekufu.

Mari simak kisah nyata dari kehidupan Rasulullah SAW, teladan kita di semua aspek kehidupan, termasuk dalam hal jodoh.

Istri-istri Rasulullah SAW bervariasi dengan keistimewaannya masing-masing. Ada ‘Aisyah RA yang cantik dan pintar, umurnya jauh di bawah Nabi. Ada Zainab binti Jahsy RA yang keturunan bangsawan. Ada juga Khadijah RA yang kaya dan mapan tapi umurnya jauh lebih tua.

Namun ada juga Saudah binti Zam’ah. Konon wanita yang satu ini tidak secantik dan secerdas ‘Aisyah, tidak sekaya Khadijah, dan bukan bangsawan seperti Zainab. Bahkan tubuhnya gemuk dan tidak sedap dipandang mata, berasal dari keluarga sederhana, dan seorang janda.

Subhanallah, meskipun demikian, Rasulullah SAW melihat pancaran pesona yang luar biasa.

Dahulu bersama suaminya, Sakran bin Amr, Saudah rela hidup susah meninggalkan Makkah menuju negeri Habasyah. Saudah mampu mengganti peran Khadijah dalam mendidik putra putri kandung Rasulullah SAW. Saudah bahkan rela menghadiahkan malam-malam gilirannya kepada ‘Aisyah. Sungguh cukup menjadi pelajaran per-sekufu-an dalam pernikahan.

Ada lagi Zainab binti Khuzaimah yang dikenal dengan ummu masakin (ibu orang-orang miskin). Seorang janda juga tapi ahli ibadah dan menjadi pengayom orang-orang miskin.

Teladan lainnya adalah Hafshah binti Umar bin Khaththab. Juga seorang janda yang ahli ibadah sehingga disebut sebagai shawwamah (wanita rajin puasa) dan qawwamah (wanita rajin shalat malam).

JODOH, TENTU SEKUFU

Terkadang ada orang yang ketika diberikan contoh-contoh kehidupan Rasulullah SAW lantas berkomentar, “Ah, itu kan Nabi.”

Ketika disodori contoh orang-orang shalih, juga berkata, “Ah, itu kan ustadz!”

Bila diceritakan kisah teman-temannya sendiri, “Ah, itu kan dia. Lain orang lain selera!”

Itulah uniknya manusia. Sering minta nasihat namun ketika dinasihati justru tanggapannya aneh.

Sebenarnya di sekitar kita pun banyak yang bisa dijadian contoh dalam masalah jodoh. Ada yang suaminya profesor doktor, namun istrinya hanya lulusan SMA. Ada duda berusia 50 tahun beristri gadis 20 tahun. Pengusaha sukses dapat gadis kampung yang miskin.

Artinya, kalau sudah jodoh, tentulah itu sekufu. Dan sekufu tidak dilihat dari ukuran-ukuran materi atau dunia, tapi kesepadanan dalam pemahaman dan agama.

Tidak ada jodoh yang sempurna, tapi jodoh itu yang dengan pribadinya masing-masing. Jangan berharap istri yang sempurna ketika diri sendiri (suami) belum sempurna.

Langkah bijak yang harus dilakukan ketika belum mendapatkan jodoh adalah berdoa dan ikhtiar. Misalnya dengan doa yang sederhana saja, “Ya Allah, pertemukan istri atau suami yang sesuai dan bisa menyempurnakan agama kami.”

Sambil terus memperbaiki diri karena jodoh tidak jauh berbeda dengan pribadi diri sendiri. Artinya, memperbaiki diri sama dengan memperbaiki calon suami atau istri.

Kemudian ketika sudah menikah, maka tetap berdoa dan ikhtiar, “Semoga istri atau suamiku menjadi jodohku hingga akhir hayat.” Sambil terus berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan karakter pasangannya.

Sebenarnya, mengukur akhwat atau ikhwan itu sekufu atau tidak, belum bisa dilakukan kalau belum menikah. Masih spekulasi, menebak-nebak, bahkan bisa salah prediksi, karena tidak bisa dilihat luarnya saja. Kelihatan kaya padahal mobil pinjaman. Nampak shalih penampilannya tapi ternyata bergaya saja.

Kekufuan bisa diketahui setelah melaksanakan pernikahan. Perlu proses, waktu, dan saling belajar dari masing-masing suami istri.

Kekufuan tidak datang dengan tiba-tiba. Kalau masih pengantin baru, memang merasa sekufu dan cocok betul. Tapi bahtera rumah tangga akan teruji dalam perjalanan waktu menghadapi gelombang kehidupan.

Penting bagi yang sudah menikah untuk menjaga bahkan meningkatkan kekufuan dengan pasangannya melalui doa dan kerjasama yang baik dalam rumah tangga. Tidak sedikit rumah tangga yang sudah dibangun puluhan tahun, beranak cucu, akhirnya toh bercerai.

Apakah mereka tidak jodoh atau sekufu? Mereka sebenarnya sekufu tapi tidak mampu menjaga kekufuannya dengan baik. Wallahu a’lam.* Abdul Ghofar Hadi, Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengkaderan Hidayatullah Balikpapan/Suara Hidayatullah


  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube