KONSORSIUMHADIS.COM

| PUSAT REFERENSI & STUDI HADITS | JLN PANGLIMA HIDAYAT NO 5B PUCANGANOM SIDOARJO JAWA TIMUR INDONESIA |

HOME » HIASI AL-QUR’AN DENGAN SUARAMU

HIASI AL-QUR’AN DENGAN SUARAMU

POSTED BY TURATSNABAWI CATEGORIES: ARTICLE_TURATS

PENULIS: UST. ZAINUDDIN MZ

Pertama, teks HADITS: Zayyinu Al-Qur’an bi ashwatikum

Kedua, terjemahan: Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.

Ketiga, status HADITS: SHAHIH.

Keempat, penjelasan hadits: Teks hadits di atas menunjukkan bahwa keindahan Al-Qur’an sangat relevan dengan keindahan suara pembacanya. Permasalahan yang muncul adalah memberikan interpretasi terhadap memperindah suara itu sendiri. Di antara umat ada yang memahami keindahan suara yang dimaksud adalah membaca Al-Qur’an sesuai dengan kaidah membacanya baik sisi tajwidnya maupun sisi makhrajnya. Sehingga keindahan membaca Al-Qur’an itu hanya dilakukan secara tartil, sebagaimana yang dipesankan oleh Allah swt. Namun sebagian umat ada yang memaknai keindahan bacaan itu dengan kemerduan suara yang tentunya juga dikaitkan dengan kaidah membacanya. Hal ini dipertajam dengan munculnya al-idraj (sisipan) dalam teks hadits yang berbunyi “hassinu ashwatakum bil Qur’an”. Berangkat dari pemaknaan yang terakhir inilah, kita yang berdomisili di Indonesia sering mengadakan lomba (musabaqah) tilawah Al-Qur’an, Baik MTQ itu dilakukan pada level kecamatan, kabupaten, provinsi bahkan di level nasional maupun internasional. Penulis teringat ketika masih kuliah di fakultas hadits Universitas Islam Madinah, membaca Al-Qur’an itu tidak boleh dilagukan. Dengan demikian mereka memahami “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu” itu tidak lebih dari pemaknaan yang pertama, yakni pemaknaan bacaan secara tartil. Terkait dengan pemahaman yang berbeda seperti ini, seharusnya setiap kita saling menghargai pendapat temannya, tidak mengklaim pendapatnya sendiri yang paling benar dan tidak ada peluang benar pada pihak temannya. Sekiranya Rasulullah saw. masih hidup, untuk menyelesaikan perbedaan faham seperti ini tinggal konfirmasi langsung lewat SMS. Sehingga kita jadi faham benar, pendapat mana yang lebih dekat dengan tuntunan.

Kelima, takhrij HADITS: Hadits ini diriwayatkan oleh 5 sahabat. Yaitu: Barra’ ibn Azib, Ibn Abbas, Abu Hurairah, Aisyah, dan Ibn Mas’ud. Hadits Barra’ ibn Azib yang dikeluarkan Abu Dud al-Thayalisi, Ahmad, Abdurrazaq, Ibn Abi Syaibah, Darimi, Abu Daud, Nasai, Ibn Majah, Abu Ya’la, Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban, Ruyani, Hakim, Baihaqi, Baghawi dalam al-Ja’diyat, dan Tamam dalam al-Fawaid. Hadits Ibn Abbas dikeluarkan Ibn Adi pada biografi Abdullah ibn Hirasy ibn Hausab. Hadits Abu Hurairah dikeluarkan Daraqutni dalam al-Afrad, dan Thabrani. Hadits Aisyah dikeluarkan Abu Nu’aim Asbahani dalam al-Hilyah al-Auliya’. Hadits Ibn Mas’ud dikeluarkan Ibn Sa’ad, dan Ibn Nashar.

Keenam, referensi: Lebih lanjut silakan merujuk referensi berikut ini: Maqasid: 234. Dhurar: 148. Tamyiz: 85. Kasyf: 1/442. Abu Dud al-Thayalisi: 738. Ahmad: 18517. Abdurrazaq: 4175. Ibn Abi Syaibah: 8737. Darimi: 3500. Abu Daud: 1468. Nasai: 1015. Ibn Majah: 1442. Abu Ya’la: 1686. Ibn Khuzaimah: 1556. Ibn Hibban: 749. Ruyani: 353. Hakim: 2098. Baihaqi: 2254. Baghawi dalam al-Ja’diyat: 2077. Tamam dalam al-Fawaid: 2/159. Ibn Adi: 1016 pada biografi Abdullah ibn Hirasy ibn Hausab. Daraqutni dalam al-Afrad: . Thabrani: . Abu Nu’aim Asbahani dalam al-Hilyah al-Auliya’: . Ibn Sa’ad: 6/90. Ibn Nashar: 54.


  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube