KONSORSIUMHADIS.COM

| PUSAT REFERENSI & STUDI HADITS | JLN PANGLIMA HIDAYAT NO 5B PUCANGANOM SIDOARJO JAWA TIMUR INDONESIA |

HOME » SHALAT YANG HANYA DUA RAKAAT

SHALAT YANG HANYA DUA RAKAAT

POSTED BY TURATSNABAWI CATEGORIES: ARTICLE_TURATS

PENULIS: UST. ZAINUDDIN MZ

SHALAT YANG HANYA DUA RAKA’AT

Apabila seseorang mengerjakan shalat yang hanya dua raka’at, seperti shalat Subuh dan lainnya, maka secara otomatis duduk ini menjadi tasyahhud akhir. Pada waktu ia melaksanakan duduk tasyahhud akhir maka ia disyari’atkan untuk melengkapi dengan bacaan ta’awwud, dzikir-dzikir dan doa-doa lainnya yang lebih lanjut akan  diurai­kan pada bab “Tasyahhud Akhir”.

Bacaan Salam Setelah Tasyahhud Akhir

Setelah itu ditutup dengan bacaan “salam”. Masalah ini juga akan diuraikan lebih lanjut pada bab “Bacaan Salam”.

Unsur Unsur Bacaan Tasyahhud

Dari paparan berbagai HADITS secara tematik di atas dapat difahami bahwa tasyahhud (baik dalam tasyahhud awal maupun tasyahhud akhir) terdiri dari tiga unsur, yaitu pertama bacaan tahiyyat, kedua bacaan syahadat dan ketiga ba­caan salawat. Dari berbagai referensi fikih untuk tasyahhud awal hanya dibatasi sampai pada bacaan syahadat (tidak disempurnakan sampai pada bacaan shalawat), padahal tuntunan Rasulullah saw. cukup jelas bahwa bacaan shalawat itu dilakukan oleh Nabi saw. baik dalam tasyahud awal maupun tasyahhud akhir. Sesungguhnya yang membedakan tasyahhud awal dan akhir adalah pada tasyahhud akhir disempurnakan dengan unsur keempat, yaitu do’a yang lebih detail akan dipaparkan pada babnya.

Dan dari uraian di atas juga dapat difahami bahwa mengisyaratkan jari telunjuk bukan pada saat membaca syahadat sebagaimana yang banyak kita saksikan dipraktikkan oleh umat, melainkan dimulai saat seseorang membaca tahiyyat.

Setelah selesai membaca tasyah­hud secara keseluruhan (mulai dari bacaanb tahiyyat sampai pada bacaan shalawat) barulah kita bangkit (berdiri) untuk melaksanakan raka’at berikutnya (ketiga) dengan dibarengi membaca takbir sebagaimana tata cara dalam takbiratul ihram.

Etika Membaca Tasyahhud

Sewaktu membaca tasyahhud disyari’atkan agar seseorang tidak saling mengeraskan bacaan, melainkan cukup untuk diden­gar oleh dirinya sendiri.

HADITS Nabi saw. yang diriwayatkan Abdullah ibn Mas’ud ra.:

مِنَ السُّنَّةِ اِخْفَاءُ التَّشَهُّدِ

“Termasuk dalam sunnah shalat adalah menyamarkan bacaan tasyahhud”. HR. Abu Daud dan Hakim. HADITS ini dinilai sah oleh imam Hakim dan disepakati oleh imam Dzahabi.

Bacaan Salawat Dalam Tasyahhud

Pada waktu membaca baik dalam tasyahhud awal maupun tasyahhud akhir, Nabi saw. selalu melengkapinya dengan bacaan shala­wat. Maka seyogyanya kita pun mengikuti keteladanan beliau. Dengan demikian bacaan tasyahhud awal tidak hanya mencukupi sampai pada bacaan syahadat, melainkan disem­purnakan sampai kepada bacaan shalawat.

HADITS Nabi saw:

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يُصَلِّى عَلَى نَفْسِهِ فِى التَّشَهُّدِ الأَوَّلِ وَ غَيْرِهِ

“Nabi saw. membaca bacaan shalawat untuk dirinya sendiri baik pada waktu melaksanakan tasyahhud awal maupun pada waktu melaksanakan tasyahhud akhir”. HR. Abu Awanah dan Nasai.

Macam-Macam Bacaan Shalawat

Bacaan shalawat yang pernah diajarkan oleh Nabi saw. me­mang cukup banyak. Kita diperbolehkan memilih bacaan salawat yang kita kehendaki, tentunya bacaan shalawat yang maktsur (ada contoh dari Nabi, bukan bacaan shalawat yang merupakan rekayasa). Untuk lebih detail pembaca dipersilahkan menelaah karya penulis “Belajar Bershalawat”. Di antara bacaan shalawat yang maktsur tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ بَيْتِهِ وَ عَلَى أَزْوَاجِهِ وَ ذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ اِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَ بَاِركْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ بَيْتِهِ وَ عَلَى أَزْوَاجِهِ وَ ذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ اِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

“Ya Allah, limpahkanlah kemurahan-Mu kepada Muham­mad, keluarganya, istri-istrinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau melimpahkan kepada keluarga Ibra­him. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji, Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada Muhammad, ke­luarganya, istri-istrinya dan keturunannya, seba­gaimana Engkau telah melimpahkannya kepada keluarga   Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji, Maha Mu­lia”. Bacaan shalawat ini termaktub dalam kitab Muslim dari Abu Humaid al-Sa’idi ra.

Kedua:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى آلِ اِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى آلِ اِبْرَهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

“Ya Allah, limpahkanlah kemurahan-Mu kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau melimpahkannya kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji, Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah ke­berkatan kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaima­na Engkau melimpahkannya kepada Ibrahim dan keluar­ganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji, Maha Mulia”. Bacaan shalawat ini termaktub dalam kitab Bukhari dan Muslim dari Abdurrahman ibn Abi Laila ra.

Ketiga:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَ آلِ اِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَ آلِ اِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

“Ya Allah, limpahkanlah kemurahan-Mu kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau melimpahkannya kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji, Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah ke­berkatan kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimna Engkau melimpahkannya kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji, Maha Mulia”. Bacaan shalawat ini termaktub dalam kitab Ahmad dan Nasai dari Thahah ra.

Keempat:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِىِّ الأُمِّى وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَ بَاِركْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِىِّ الأُمِّى وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَاَركْتَ عَلَى آلِ اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

“Ya Allah, limpahkanlah kemurahan-Mu kepada Nabi yang ummi dan kepada keluarganya, sebagaimana Engkau telah melimpahkannya kepada Ibrahim. Ya Allah beri­kanlah keberkatan kepada Muhammad, Nabi yang ummi dan kepada keluarganya, sebagaimana Engkau telah me­limpahkannya kepada Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji, Maha Mulia”. Bacaan shalawat ini termaktub dalam kitab Muslim dan Abu Awanah dari Abu Mas’ud ra.

Kelima:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَ رَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ اِبْرَاهِيْمَ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ اِبْرَاهِيْمَ

“Ya Allah, limpahkanlah kemurahan-Mu kepada Muham­mad, hamba-Mu dan Rasul-Mu, sebagaimana Engkau telah melimpahkannya kepada Ibrahim dan keluarganya. Ya Allah, berkatilah Muhammad, Nabi-Mu dan Rasul-Mu, sebagai-mana Engkau melimpahkannya kepada Ibrahim dan keluarganya”. Bacaan shalawat ini termaktub dalam kitab Bukhari, Nasai Thahawi dan Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudri ra.

Keenam:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَزْوَاجِهِ وَ ذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ اِبْرَاهِيْمَ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَزْوَاجِهِ وَ ذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ اِبْرَهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

“Ya Allah, limpahkanlah kemurahan-Mu kepada Muham­mad, istri-istrinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah melimpahkannya kepada keluarga Ibrahim. Ya Allah, berkatilah Muhammad, istri-istrinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan­nya kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji, Maha Mulia”. Bacaan shalawat ini termaktub dalam kitab Bukhari dan Muslim dari Abu Humaid al-Sa’idi ra.

Ketujuh:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى آلِ اِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

“Ya Allah, limpahkanlah kemurahan-Mu kepada Muhammad dan keluarga-nya. Berikanlah keberkatan kepada Muham­mad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah melim­pahkannya kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguh­nya Engkau Maha Terpuji, Maha Mulia”. Bacaan shalawat ini termaktub dalam kitab Thahawi dengan sanad (mata rantai perawi) yang sah dari Abu Hurairah ra.

Syari’at Membaca Wirid

Sewaktu duduk tasyahhud disyari’atkan membaca do’a-do’a dan wirid-wirid tasyahhud yang sudah pernah dia­jarkan oleh Nabi saw. Beliau telah mengajarkan ba­caan wirid tasyahhud kepada para sahabat sebagaimana beliau mengajarkan bacaan surat Al-Qur’an.

HADITS Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Abdullah :

كُنَّا اِذَا جَلَسْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قُلْنَا (السَّلاَمُ عَلَى اللَّهِ مِنْ عِبَادِهِ السَّلاَمُ عَلَى فُلاَنٍ وَ فُلاَنٍ) فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: لاَ تَقُوْلُوْا (السَّلاَمُ عَلَى اللَّهِ) وَ لَكِنْ اِذَا جَلَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ (التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ)

“Ketika kami duduk berdampingan dengan Nabi saw. dalam shalat, kami membaca Assalamu ‘alallah min ibadihi. As­salamu ‘ala fulan wa fulan. Maka Nabi saw. menegur kami: Janganlah kalian mengucapkan salam untuk Allah seperti itu. Ketika kalian duduk tasyahhud, ucapkanlah Attahiyyatu lillah …”. HR. Nasai dan Ahmad dengan sanad (mata rantai perawi) yang sah. Adapun argumentasi bahwa Nabi saw. mengajarkan bacaan tasyahhud seperti beliau mengajarkan bacaan surat Al-Qur’an akan diuraikan pada bab berikutnya.

Lafaz Pertama Dalam  Bacaan Tasyahhud

Bacaan tasyahhud yang pernah diajarkan oleh Nabi saw. memang cukup banyak. Kesemuanya dimulai dengan lafaz Attahiyatu lillah …

HADITS Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Aisyah ra.:

كَانَ أَوَّلُ مَا يَتَكَلَّمُ بِهِ عِنْدَ الْقَعْدَةِ (التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ)

“Lafaz pertama yang diucapkan Nabi saw. sewaktu duduk tasyahhud adalah Attahiyatu lillah”. HR. Baihaqi.

Macam-Macam Bacaan Tasyahhud

Adapun macam-macam  wirid tasyahhud yang pernah dija­jarkan oleh Nabi saw. tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama:

اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَ الصَّلَوَاتُ وَ الطَّيِّبَاتُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَ رَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَ عَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِيْنَ أَشَهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ

“Segala kehormatan, harapan dan hal-hal yang baik adalah milik Allah. Segala keselamatan, rahmat dan keberkatan Allah semoga terlimpah kepadamu wahai Nabi. Semoga keselamatan terlimpah untuk kami dan para hamba Allah yang saleh. Saya bersaksi bahwa ti­dak ada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.

Inilah contoh bacaan tasyahhud yang pernah diajarkan oleh Nabi saw. kepada Abdullah ibn Mas’ud ra. sebagaimana beliau mengajarkan Al-Qur’an kepadanya. HADITS ini dikeluarkan oleh imam Bukhari dan Muslim.

Kedua:

اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِىُّ وَ رَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَ عَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَ أَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللَّهِ

“Segala kehormatan, keberkatan, pengharapan dan ke­baikan hanyalah milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat dan keberkatan terlimpah kepadamu wahai Nabi. Semoga keselamatan terlimpah kepada kami dan para hamba Allah yang saleh. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah”.

Inilah contoh bacaan tasyahhud yang pernah diajarkan oleh Nabi saw. kepada ibn Abbas ra. sebagaimana belaiu mengajarkan Al-Qur’an kepadanya. HADITS ini dikeluarkan oleh imam Muslim, Abu Awanah, Syafi’i dan Nasai.

Ketiga:

اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَ الصَّلَوَاتُ وَ الطَّيِّبَاتُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِىُّ وَ رَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَ عَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ

“Segala kehormatan hanyalah milik Allah, demikian pula harapan-harapan dan kebaikan-kebaikan. Semoga kesejahteraan serta rahmat Allah dan keber-katannya terlimpah kepadamu wahai Nabi. Semoga keselamatan terlimpah kepada kami dan para hamba Allah yang sa­leh. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Al­lah sendiri yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya ber­saksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”. Bacaan tasyahuud ini termaktub dalam kitab Abu Daud dan Daraqutni dari Abdullah ibn Umar ra.

Keempat:

اَلتَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِىُّ وَ رَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَ عَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ

“Segala kehormatan, kebaikan, dan pengharapan hanya­lah milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat dan ke­berkatan Allah terlimpah kepadamu wahai Nabi. Semoga keselamatan terlimpah kepada kami dan para hamba Allah yang saleh. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah sendiri yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”. Bacaan tasyahhud ini termaktub dalam kitab Muslim, Abu Awanah, Abu Daud dan ibn Majah dari Abu Musa Asy’ari ra.

Kelima:

اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ اَلزَّاكِيَاتُ لِلَّهِ اَلطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ اَلصَّلَوَاتُ لِلَّهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَ عَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَ أَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ

“Segala kehormatan, kesucian, kebaikan dan penghara­pan hanyalah milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat dan keberkatan Allah terlimpah kepadamu wahai Nabi. Semoga keselamatan terlimpah kepada kami dan para hamba Allah yang saleh. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”. Bacaan tasyahhud ini termaktub dalam kitab Malik dengan sanad (mata rantai perawi) yang sah dari Umar ibn Khattab ra.

Sifat Duduk

Untuk kesempurnaan duduk tasyahhud awal (yakni duduk iftiras) lebih lanjut perlu diperhatikan hal-hal berikut ini:

Telapak tangan kanan diletakkan pada paha kanan atau lutut kaki kanan dan telapak tangan kiri diletakkan pada paha kiri atau lutut kaki kiri.

Jari-jari tangan kiri diluruskan.

Jari-jari tangan kanan dikepalkan kecuali jari te­lunjuk yang diisyaratkan.

Jari telunjuk yang diisyaratkan tersebut supaya dig­erak-gerakkan. Dan pandangan mata ditujukan kepada­nya.

Kepalan tangan diatur sedemikian rupa sehingga ibu jari diletakkan di atas jari tengah. Boleh juga di­bentuk sebuah lingkaran, yaitu ujung jari tengah di­kaitkan dengan ujung ibu jari.

Dalam hal ini tidak diperkenankan mengisyaratkan dengan dua jari.

Dalil-dalil dalam masalah ini cukup banyak. Di anta­ra dalil-dalil tersebut adalah sebagai berikut:

HADITS Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Umar ra.:

كَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَبْسُطُ كَفَّهُ الْيُسْرَى وَ يَقْبِضُ أَصَابِعَ كَفِّهِ الْيُمْنَى كُلَّهَا وَ يُشِيْرُ بِأُصْبُعِهِ الَّتِى تَلِى الاِبْهَامَ اِلَى الْقِبْلَةِ

“Sewaktu Nabi saw. duduk tasyahhud, beliau melurus­kan jari-jari tangan kirinya dan meletakkannya di atas lutut kirinya. Beliau mengepalkan jari-jari tangan kanannya, kecuali jari telunjuk oleh beliau diisya­ratkannya ke arah kiblat”. HR. Muslim dan Abu Awanah.

HADITS Nabi saw. lainnya yang diriwayatkan oleh  Zu­bair ra.:

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ اِذَا قَعَدَ … أَشَارَ بِأُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ وَ وَضَعَ اِبْهَامَهُ عَلَى أُصْبُعِهِ الْوُسْطَى

“Sewaktu Nabi saw. duduk tasyahhud, beliau mengisya­ratkan jari  telunjuknya. Meletakkan ibu jarinya di atas jari tengahnya”. HR. Muslim dan Abu Awanah.

HADITS Nabi saw. lainnya yang diriwayatkan oleh Wail ibn Khujr ra.:

ثُمَّ جَلَسَ وَ افْتَرَشَ … وَ قَبَضَ اثْنَتَيْنِ وَ حَلَّقَ حِلْقَةً ثُمَّ رَفَعَ أُصْبُعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُوْ بِهَا

“Kemudian Nabi saw. melaksanakan duduk iftiras. Beliau mengkaitkan antara ujung jarinya sehingga membentuk sebuah lingkaran dan mengisyaratkan jari telunjuknya serta menggerak-gerakkannya sambil mem­baca wirid tasyah-hud”. HR. Abu Daud, Nasai dan ibn Majah.

HADITS Nabi saw. lainnya:

لَهِىَ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنَ الْحَدِيْدِ يَعْنِى السَبَّابَةَ

“Gerakan jari telunjuk ini jauh lebih hebat daripada tipu daya syetan”. HR. Ahmad.

HADITS Nabi saw. lainnya yang diriwayatkan oleh Ab­dullah ibn Umar ra.:

وَ يُشِيْرُ بِأُصْبُعِهِ الَّتِى تَلِى الاِبْهَامُ اِلَى الْقِبْلَةِ وَ يَرْمِى بِبَصَرِهِ اِلَيْهَا

“Nabi saw. mengisyaratkan jari telunjuknya dan men­garahkan pandangan mata kepadanya”. HR. Muslim.

HADITS Nabi saw. lainnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.:

اِنَّ رَجُلاً كَانَ يَدْعُوْ بِأُصْبُعَيْهِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَحِّدْ أَحِّدْ

“Seorang sahabat Nabi saw. sewaktu duduk tasyahhud mengisyaratkan dua jarinya. Maka Nabi saw. menegur­nya: Satu saja! Selanjutnya dia hanya mengisyaratkan satu jarinya saja”. HR. Nasai dan ibn Abi Syaibah. HADITS ini dinilai sah oleh imam Hakim dan disepakati oleh imam Dzahabi.

Tasyahhud Awwal Dan Wiridnya

Syari’at Duduk Tasyahhud

Setelah menyelesaikan dua raka’at maka disyari’atkan untuk duduk tasyahhud (duduk untuk membaca tasyahhud). Di dalam shalat yang terdiri tiga raka’at atau lebih maka duduk ini disebut “tasyahhud awwal”. Namun dalam pelaksanaan shalat yang hanya terdiri dua raka’at maka duduk ini secara otomatis menjadi duduk “tasyahhud ak­hir”.

HADITS Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Aisyah ra.:

وَ كَانَ يَقْرَأُ فِى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ

“Pada setiap usai mengerjakan dua raka’at maka Nabi saw. membaca tahiyyat (duduk tasyahhud)”. HR. Muslim.

Sifat Duduk Tasyahhud

Sifat duduk tasyahhud awwal ini sama dengan sifat duduk antara dua sujud. Duduk seperti inilah yang disebut du­duk “iftiras”. Hanya saja di sini perlu dipertajam hal-hal berikut ini:

Pertama, telapak tangan kanan diletakkan pada paha kanan atau lutut kaki kanan dan telapak tangan kiri pada paha kiri atau lutut kaki kiri.

Kedua,  larangan duduk bersanggah, yakni meletakkan tangan di atas bumi un­tuk bersanggah diri karena sikap ini diibaratkan ba­gaikan sikap duduknya orang Yahudi yang sedang di­laknat Tuhan.

Dalil dalil yang menerangkan masalah ini cukup bany­ak. Di antara dalil-dalil tersebut adalah:

HADITS Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Rifa’ah ibn Rafi’ ra.:

فَقَالَ لَهُ: فَاِذَا جَلَسْتَ فِى وَسَطِ الصَّلاَةِ فَاطْمَئِنَّ وَ افْتَرِشْ فَخْدَكَ الْيُسْرَى ثُمَّ تَشَهَّدْ

Nabi saw. bersabda: “Sewaktu anda duduk di pertenga­han shalatmu maka duduklah dengan tumakninah. Duduk­lah dengan iftiras, yakni menduduki telapak kaki kirimu. Kemudian bacalah bacaan tasyahhud”. HR. Abu Daud dan Baihaqi dengan sanad (mata rantai perawi) yang sah.

HADITS Nabi saw. lainnya yang diriwayatkan oleh ibn Umar ra.:

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ اِذَا قَعَدَ فِى التَّشَهُّدِ وَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتَيْهِ الْيُسْرَى وَ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتَيْهِ الْيُمْنَى

“Sewaktu Nabi saw. duduk tasyahhud beliau meletakkan tangan kiri pada lutut kaki kirinya dan telapak tan­gan kanan pada lutut kaki kanannya”. HR. Muslim.

HADITS Nabi saw. lainnya yang diriwayatkan oleh Wail ibn Khujr ra.:

وَ كَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمِ يَضَعُ حَدَّ مِرْفَقَيْهِ الأَيْمَنِ عَلَى فَخْدِهِ الْيُمْنَى

“Ketika Nabi saw. duduk tasyahhud beliau meletakkan lengan kanan pada paha kanannya”. HR. Abu Daud.

HADITS Nabi saw. lainnya yang diriwayatkan oleh ibn Umar ra.:

نَهَى رَجُلاً وَ هُوَ جَالِسٌ مُعْتَمِدٌ عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى فِى الصَّلاَةِ فَقَالَ اِنَّهَا صَلاَةُ الْيَهُوْدِ

“Nabi saw. melarang seseorang duduk tasyahhud dengan bersanggah pada kedua tangannya. Sikap seperti ini diibaratkan seperti duduknya orang Yahudi”. HR. Baihaqi dan Hakim. HADITS ini dinilai sah oleh imam Hakim dan disepakati oleh imam Dzahabi.

HADITS Nabi saw. lainnya yang diriwayatkan oleh ibn Umar ra.:

لاَ تَجْلِسُ هَكَذَا فَاِنَّ ذَكَ يَجْلِسُ الَّذِى يُعَذَّبُوْنَ

“Janganlah anda duduk seperti ini (bersanggah dengan tangan). Karena duduk seperti ini adalah duduknya orang yang sedang disiksa Tuhan”. HR. Abu Daud.

Pelaksanakan Raka’at Berikutnya

Cara Pelaksanaannya

Sewaktu Nabi saw. bangkit untuk melaksanakan raka’at berikutnya, beliau mengangkat anggota badannya dengan bantuan (bersanggah dengan) kedua tangannya. Dengan cara ini secara otomatis dapat difahami bahwa tata cara pelaksanaannya adalah mengangkat kepala terlebih dahulu kemudian mengangkat kedua lututnya, kemudian barulah mengangkat kedua tangannya.

HADITS Nabi saw.:

وَ كَانَ يَعْجِنُ فِى الصَّلاَةِ: يَعْتَمِدُ عَلَى يَدَيْهِ اِذَا قَامَ

“Ketika Nabi saw. bangkit, beliau melaksanakannya sam¬bil bersanggah dengan kedua tangannya yang dikepalkan (seperti halnya orang memeras santan), boleh juga dengan tidak mengepalkan jari”. HR. Abu Ishak al-Harbi dengan sanad (mata rantai perawi) yang sah. HADITS ini juga dikeluarkan oleh imam Baihaqi dengan maknanya.

Mengeraskan Bacaan Dari Hamdalah

Ditemukan contoh dari Nabi saw bahwa beliau memulai mengeraskan bacaan surat Al-Qur’an atau bacaan Al-Fatihah dengan Alhamdulillah …

HADITS Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.:

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ اِذَا نَهَضَ فِى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ اِسْتَفْتَحَ الْقِرَاءَةَ بِالْحَمْدُ للِّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَ لَمْ يَسْكُتْ

“Sewaktu Nabi saw. bangkit untuk melaksanakan raka’at yang kedua, beliau memulai mengeraskan bacaan Al-Fatihah dengan Alhamdu-lillahi rabbil ‘alamin dan tidak ada diam sejenaknya”. HR. Muslim dan Abu Awanah. HADITS inilah yang juga dipakai argumentasi bagi mereka yang mengatakan bahwa mengeraskan bacaan Al-Fatihah dalam rakaat pertama juga dengan hamdalah, bukan dengan basmalah, walaupun bacaan basmalah tetap dibaca dengan sirri (rahasia atau samar).

Dan menurut pendapat yang kuat, tidak diamnya Nabi saw. tersebut bukan berarti tidak membaca ta’awwud dan bas¬malah. Hal ini tetap dibacanya walaupun tidak dengan suara keras. Wallahu a’lam.

Raka’at Kedua Tanpa Do’a Iftitah

Dari keterangan HADITS-HADITS di atas juga dapat disimpulkan bahwa untuk melaksanakan raka’at berikutnya (yakni rakaat yang kedua dan seter¬usnya) tidak lagi disyariatkan membaca do’a iftitah. Maka do’a iftitah hanya disyari’atkan pada pelaksanaan rakaat yang pertama.

Syari’at Takbiratul Ihram

Memulai shalat dengan “takbir”, takbir ini disebut “takbiratul ihram”, yang artinya diharamkan atau tidak boleh. Maka seorang yang sudah bertakbiratul ihram tidak diperbolehkan berucap apapun, berbuat apapun, kecuali yang telah diijinkan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw. Seperti inilah yang diajarkan oleh Nabi saw. kepada sahabat yang belum menyempurnakan shalatnya. Hadits Nabi saw.:

“Kunci shalat adalah bersuci (wudhu/ tayammum), dimulai shalat dengan takbir (takbiratul ihram), dan diakhiri dengan bacaan salam”.

HR. Abu Daud dan lainnya. Hadits ini semula belum bisa dinilai sah karena di dalam sanad-nya (mata rantai perawinya) terdapat perawi Abdullah ibn Muhammad ibn Aqil yang dinilai lemah. Tetapi hadits ini memiliki kesaksian periwayatan dari Abu Sa’id al-Khudri, Abdullah ibn Zaid dan Ibn Abbas, dengan demikian status hadits tersebut sah untuk dijadikan hujjah.

Suatu saat Nabi saw. menyaksikan seorang sahabat yang tidak menyempurnakan shalatnya, oleh ulama disebut HADITS musi’ shalatahu (yang tidak menyempurnakan shalatnya), yang untuk selanjutnya disingkat HADITS mim shad. Oleh karena kedudukan HADITS ini sangat penting dalam rangkaian pelaksanaan shalat maka penulis nukilkan sepotong demi sepotong sesuai dengan masalah yang dikaji.

Dalam HADITS mim shad tersebut, Nabi saw. menasehati: “Apabila anda mendirikan shalat, sempurnakan wudhumu, menghadaplah ke arah kiblat, kemudian bacalah takbir (takbiratul ihram)”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.


  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube