KONSORSIUMHADIS.COM

| PUSAT REFERENSI & STUDI HADITS | JLN PANGLIMA HIDAYAT NO 5B PUCANGANOM SIDOARJO JAWA TIMUR INDONESIA |

HOME » TASYAHUD DALAM SHALAT TSUNAIYAH

TASYAHUD DALAM SHALAT TSUNAIYAH

POSTED BY TURATSNABAWI CATEGORIES: ARTICLE_TURATS

PENULIS : UST. ZAINUDDIN MZ (DIREKTUR TURATS NABAWI | PUSAT STUDI HADITS)

1. PENDAHULUAN

Tsunaiyah dari kata itsnaini yang artinya dua. Maksudnya shalat yang hanya terdiri dua rakaat seperti tahiyatul masjid, shalat Subuh, shalat Jum’at dan sebagainya. Untuk shalat yang jumlahnya tiga rakaat, lazimnya disebut tsulatsiyah, dari kata tsalatsah yang artinya tiga, dan untuk shalat yang jumlahnya empat rakaat, lazimnya disebut ruba’iyah, dari kata arba’ah yang artinya empat. Istilah-istilah ini sama sekali bukan dari hadits, melainkan istilah yang biasa dipakai ulama’.

Dalam artikel ini akan dipaparkan bagaimana etika duduk tasyahud untuk shalat tsunaiyah (yang hanya terdiri dua rakaat), seperti shalat Subuh dan lainnya.

Ada enam referensi yang pernah penulis baca bahwa dalam shalat tsunaiyah, etika duduk tasyahudnya iftirasy, bukan tawaruk dengan argumentasi beberapa hadits. Problemnya, pada terjemahannya dikatakan, “Rasulullah saw. dalam shalat tsunaiyah, duduknya iftirasy”. Dalam terjemahan lainnya, “Rasulullah saw. dalam shalat yang hanya terdiri dua rakaat, maka duduknya iftirasy”.  Dalam teks aslinya sama sekali tidak ada tambahan “seperti shalat Subuh …”.

Dari terjemahan itulah muncul fatwa untuk shalat tsunaiyah (yang hanya dua rakaat) sifat duduknya adalah iftirasy (yaitu dengan menegakkan telapak kaki kanan di atas jari-jemarinya dan menghamparkan telapak kaki kiri dengan menempelkan bagian atasnya di lantai lalu menduduki bagian dalamnya.

2. DALIL DUDUK IFTIRASY DALAM SHALAT TSUNAIYAH

Mereka yang berpendapat etika duduk shalat tsunaiyah adalah iftirasy adalah sebagai berikut.

A. HADITS MUHAMMAD BIN AMR

وَعَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ قَالَ: (كُنْتُ جَالِسًا مَعَ) (عَشَرَةٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم) (فَذَكَرُوا صَلَاةَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم, فَقَالَ أَبُو حُمَيْدٍ السَّاعِدِيُّ رضي الله عنه: أَنَا كُنْتُ أَعْلَمُكُمْ بِصَلَاةِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم) …  (فَإِذَا قَعَدَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ) (يَعْنِي لِلتَّشَهُّدِ) (قَعَدَ عَلَى بَطْنِ قَدَمِهِ الْيُسْرَى, وَنَصَبَ الْيُمْنَى) وفي رواية: (افْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَأَقْبَلَ بِصَدْرِ الْيُمْنَى عَلَى قِبْلَتِهِ, وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى, وَكَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى, وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ يَعْنِي السَّبَّابَةَ) (ثُمَّ إِذَا قَامَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ كَمَا كَبَّرَ عِنْدَ افْتِتَاحِ الصَّلَاةِ ثُمَّ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي بَقِيَّةِ صَلَاتِهِ)

Muhammad bin Amr bin Atha’ berkata: (Aku duduk) (bersama sepuluh sahabat Nabi saw.) (Mereka memperbincangkan shalat Nabi saw.). Abu Humaid al-Sa’idi berkata: Aku lebih faham dari kalian terhadap shalat Nabi saw.) … (Ketika Nabi saw. duduk pada dua rakaat) (yakni duduk tasyahud) (Nabi duduk pada telapak kaki kirinya, dan menegakkan telapak kaki kanannya), dalam riwayat lain (yakni duduk iftirasy, menghamparkan kaki kirinya pada lantai dan menegakkan telapak kaki kananya yang jemarinya diarahkan ke kiblat, meletakkan telapak tangan kanan pada lutut kanannya dan telapak tangan kiri pada lutut kirinya, dan mengisyaratkan telunjuknya) (Kemudian saat Nabi saw. bangkit setelah dua rakaatnya, beliau bertakbir dengan mengangkat tangan sampai setantang dengan kedua pundaknya, persis seperti waktu takbiratul ihram. Lalu menjalani sampai tuntas shalatnya). Hr. Bukhari: 828; Abu Dawud: 730, 731, 734; Tirmidzi: 293, 304; Nasai: 1181, Ahmad: 23647.

ANALISA DALIL

Hadits Muhammad bin Amr tidak spesifik menunjukkan shalat tsunaiyah, melainkan sifat duduk pada dua rakaat. Konotasinya hadits ini untuk pelaksanaan shalat yang ada tasyahud awalnya, seperti pada dua rakaat dalam shalat tsulatsiyah atau rubaiyah. Yang mempertajam pemahaman ini kelanjutan hadits tersebut “Kemudian saat Nabi saw. bangkit setelah dua rakaatnya, beliau bertakbir dengan mengangkat tangan sampai setantang dengan kedua pundaknya, persis seperti waktu takbiratul ihram. Lalu menjalani sampai tuntas shalatnya”. Dengan demikian porsi duduk iftirasy pada tasyahud awal, bukan tasyahud akhir.

B. HADITS AISYAH

وَعَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: (كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، يَفْتَتِحُ الصَّلَاةَ بِالتَّكْبِيرِ، وَالْقِرَاءَةَ بِـ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) … (وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ: التَّحِيَّاتُ, وَكَانَ إِذَا جَلَسَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى)

Aisyah ra. berkata: (Rasulullah saw. memulai shalat dengan takbir, dan memulai bacaan dengan hamdalah) … (pada setiap dua rakaat Nabi membaca tahiyat. Duduknya iftirasy (menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan telapak kaki kanannya). Hr. Muslim: 498; Abu Dawud: 783; Ibnu Majah: 812, 893; Ahmad: 24076.

ANALISA DALIL

Hadits ini juga tidak menunjukkan tasyahud dalam shalat tsunaiyah. Pernyataan Aisyah “pada setiap dua rakaat …” menunjukkan bahwa duduk iftirasy ini untuk tasyahud awal.

C. HADITS WAIL BIN HUJR

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ: «أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَأَيْتُهُ يَرْفَعُ يَدَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ حَتَّى يُحَاذِيَ مَنْكِبَيْهِ، وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ، وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ أَضْجَعَ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى

Wail bin Hujr ra. berkata: Aku mendatangi Rasulullah saw. dan aku lihat beliau mengangkat tangan hingga setantang kedua pundaknya sewaktu memulai shalat. Sedemikian pula saat ruku’. Jika beliau duduk pada dua rakaat, beliau hamparkan kaki kirinya dan beliau tegakkan telapak kaki kanannya. Hr. Nasai: 1159.

ANALISA DALIL

Hadits ini dinilai Albani sanadnya shahih. Seperti hadits sebelumnya, duduk tasyahud ini difahami duduk tasyahud awal (pada dua rakaat), bukan shalat yang hanya dua rakaat.

D. HADITS ABDULLAH BIN ZUBAIR

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ، افْتَرَشَ الْيُسْرَى، وَنَصَبَ الْيُمْنَى، وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى الْوُسْطَى، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ، وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى.

Abdullah bin Zubair ra. berkata: Jika Rasulullah saw. duduk pada dua rakaat, beliau duduk iftirasy (menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan telapak kaki kanannya, Ibu jarinya direkatkan pada jari tengah, dan mengisyaratkan dengan jari telunjuknya, dan tangan kiri diletakkan pada lutut kirinya. Hr. Muslim: 579; Abu Dawud: 988, 989, 990; Nasai: 1270, 1275; Ahmad: 16145.

ANALISA DALIL

Hadits di atas dinilai Albani “hasan”, padahal ada pada kodifikasi Muslim. Hadits ini juga tidak menunjukkan dalil yang spesifik untuk shalat tsunaiyah, melainkan shalat pada dua rakaat. Yakni pada tasyahud awal. Terjemahan yang muncul di berbagai buku “shalat yang hanya dua rakaat” atau “shalat tsunaiyah” sama sekali tidak muncul dalam teks hadits, apalagi dengan tambahan redaksi “seperti shalat Subuh dan lainnya”.

3. DUDUK TAWARUK UNTUK RAKAAT YANG ADA SALAMNYA

Pada duduk dalam rakaat yang ada salamnya, seperti rakaat kedua dalam shalat Subuh, Jum’at dan shalat-shalat sunah lainnya, demikian pula pada rakaat ketiga dalam shalat Maghrib, atau pada rakaat keempat pada shalat Isya’, Dhuhur, Ashar dan lainnya, maka etika duduknya adalah tawaruk.

Duduk tawaruk, yaitu seorang yang shalat menegakkan telapak kaki kanannya dan meletakkan bagian dalam jari-jemarinya di lantai dan menghadapkan ujung-ujung jari-jemarinya itu ke arah kiblat dan mengeluarkan kaki kirinya di sebalah kanan serta menempelkan pangkal pahanya di lantai, demikian pula bokong bagian kirinya yang mengikutinya.

Berikut ini dalil-dalil yang sangat spesifik duduk tawaruk dalam shalat tsunaiyah, dan begitu pula tasyahud akhir dalam shalat tsulatsiyah dan rubaiyah.

A. HADITS ABU HUMAID AL-SA’IDI

عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ تَنْقَضِي فِيهِمَا الصَّلَاةُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَقَعَدَ عَلَى شِقِّهِ مُتَوَرِّكًا، ثُمَّ سَلَّمَ

Abu Humaid al-Sa’idi ra. berkata: Jika Nabi pada rakaat yang kedua mengakhiri shalatnya, Nabi mengeluarkan kaki kirinya dan duduk pada sisinya secara tawaruk, kemudian salam. Hr. Nasai: 1262, Ibnu Khuzaimah: 700. Hadits ini dinilai shahih oleh Albani.

Dalam versi lain yang juga diriwayatkan Abu Humaid al-Sa’idi dengan redaksi:

حَتَّى إِذَا كَانَتِ السَّجْدَةُ الَّتِي فِيهَا التَّسْلِيمُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شِقِّهِ الْأَيْسَرِ

Pada rakaat yang ada salamnya, Nabi saw. mengeluarkan kaki kirinya, dan duduk tawaruk pada sisi kirinya. Hr. Abu Dawud: 730.  Albani menilainya “shahih”.

Dan dalam versi lain yang juga diriwayatkan Abu Humaid al-Sa’idi dengan redaksi:

حَتَّى إِذَا كَانَتِ السَّجْدَةُ الَّتِي تَكُونُ خَاتِمَةَ الصَّلَاةِ، رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْهُمَا، وَأَخَّرَ رِجْلَهُ، وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا

Pada rakaat yang menjadi penutup shalat (rakaat terakhir), beliau mengangkat kepala, lalu mengeluarkan kaki kirinya dan duduk tawaruk. Hr. Ibnu Hibban: 1870. Arnauth menilai “sanadnya shahih” .

ANALISA DALIL

Ketiga hadits diatas secara jelas menunjukkan ketika Nabi shalat yang hanya dua rakaat, sebagaimana yang dapat difahami dari redaksi berikutnya “mengakhiri shalatnya”, etika duduknya adalah tawaruk. Demikian pula pada versi-versi lainnya apakah dengan redaksi “rakaat yang ada salamnya” atau “rakaat yang menjadi penutup shalat” sinergi dengan uraian sebelumnya, penjelasan ini ia sampaikan di hadapan sepuluh sahabat, dan tidak ada seorangpun yang mengingkarinya.

B. HADITS IBNU MAS’UD

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَجْلِسُ فِي آخِرِ صَلَاتِهِ عَلَى وَرِكِهِ الْيُسْرَى.

Ibnu Mas’ud ra. berkata: Sesungguhnya di akhir shalat Rasulullah saw. duduknya tawaruk. Hr. Ibnu Khuzaimah: 701, 702, 708; Ahmad: 4382.

ANALISA DALIL

Hadits periwayatan Ibnu Mas’ud ini mempertajam dalam shalat apapun (tsunaiyah, tsulatsiyah dan rubaiyah), pada rakaat yang terakhir etika duduknya adalah tawaruk. Dengan demikian hadits-hadits di atas menjadi taqyid terhadap kemutlakan duduk tasyahud yang difahami kelompok pertama. Artinya etika duduk iftirasy jika dalam shalat ada duduk tasyahud awalnya, seperti shalat Maghrib, Isya’ dan sebagainya. Namun dalam tasyahud akhir seperti shalat Subuh dan lainnya duduknya adalah tawaruk.

4. SIFAT DUDUK SHALAT WITIR SATU ATAU TIGA RAKAAT

Untuk mengetahui bagaimana etika duduk tasyahud dalam shalat witir satu atau tiga rakaat, maka tidaklah sulit bagi mereka yang telah memahami hadits pada rakaat yang ada salamnya, etika duduk Nabi adalah tawaruk. Sedemikian pula jawaban untuk semua shalat yang rakaatnya ada salam, maka etika duduknya adalah tawaruk.

Menurut kaidah berfikir, hadits-hadits kelompok pertama berstatus mutlak, sementara hadits-hadits kelompok kedua berstatus muqayad, maka taqyid dibangun pada kemutlakan. Artinya semua tasyahud duduknya iftirasy, kecuali jika tasyahud itu ada salamnya maka duduknya tawaruk, apakah untuk shalat yang hanya satu rakaat, atau dua rakaat, atau tiga rakaat, atau empat rakaat dan lainnya.


  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube