KONSORSIUMHADIS.COM

| PUSAT REFERENSI & STUDI HADITS | JLN PANGLIMA HIDAYAT NO 5B PUCANGANOM SIDOARJO JAWA TIMUR INDONESIA |

HOME » ISLAM BERAWAL DARI KEASINGAN

ISLAM BERAWAL DARI KEASINGAN

POSTED BY TURATSNABAWI CATEGORIES: ARTICLE_TURATS

PENULIS : UST. ZAINUDDIN MZ (DIREKTUR TURATS NABAWI | PUSAT STUDI HADITS)

PERTAMA, TEKS HADIS: Badaa al-Islam ghariban fa saya’udu ghariban kama badaa fa tuba lilghuraba’.

KEDUA, TERJEMAHAN: Islam berawal dari keasingan dan kelak akan kembali kepada keasingan seperti semula, maka berbahagialah mereka yang terasingkan.

KETIGA, STATUS HADIS: Hadis shahih.

KEEMPAT, TAKHRIJ HADIS: Hadits di atas diriwayatkan (1) Abu Hurairah, (2) Salman, (3) Anas, (4) Ibn Mas’ud, (5) Ibn Abbas, (6) Jabir, (7) Syuraih ibn Ubaidillah al-Hadrami, (8) Abu Darda’, (9) Abu Umamah dan (10) Watsilah. Hadits periwayatan Abu Hurairah dikeluarkan oleh Muslim, Ibn Majah, Abu Ya’la. Hadits periwayatan Salman dikeluarkan Thabrani. Hadits periwayatan Anas dikeluarkan Ibn Majah, Bushiri, Thabrani dalam al-Ausath. Hadits periwayatan Ibn Mas’ud dikeluarkan Ahmad, Turmudzi, Ibn Majah, Ibn Abi Syaibah, Darimi, Bazzar, Syasyi, Abu Ya’la. Hadits periwayatan Ibn Abbas dikeluarkan Thabrani dalam al-Kabir, Thabrani dalam al-Ausath. Hadits periwayatan Jabir dikeluarkan Thabrani dalam al-Ausath. Periwayatan Syuraih ibn Ubaidillah al-Hadrami dikeluarkan Rafii. Adapun hadits periwayatan Abu Darda’, Abu Umamah dan Watsilah dikeluarkan Khatib al-Baqdadi. Dengan demikian ditemukan sepuluh sahabat yang terlibat dalam periwayatan hadits ini, yang lazim diistilahkan hadits masyhur. Memang tidak semua hadits masyhur itu shahih, namun karena hadits itu sudah dikeluarkan Muslim dan lainnya maka status hadits tersebut dikategorikan hadits shahih.

KELIMA, PENJELASAN HADITS: Anda dapat membayangkan hidup di masa jahiliyah, setiap manusia kehidupannya mereka exsis sekiranya dapat mengorbankan orang lain. Barangkali istilah yang tepat digunakan adalah “kalau tidak pandai memakan orang bakal dimakan orang”. Dalam hal jual beli misalnya. Seseorang memiliki combe yang sangat banyak. Agar barang dagangannya laris, combe-combe tersebut diperlakukan seperti rame-rame menebas dagangannya, tentu dengan harga yang sangat tinggi sehingga ia dapat menarik perhatian publik dan meraup keuntungan yang luar biasa dan tega mengorbankan para konsumennya. Takarannya pun dikurangi sedemikian rupa, yang semestinya tidak sampai satu mud (1,25 kg) dikasih lebel satu mud dan takaran yang tidak sampai satu sha’ (2,5 kg) dikasih lebel satu sha’. Sehingga dari sisi takarannya sudah meraup keuntungan besar dan dari segi harganya demikian pula halnya. Maka kehadiran Rasulullah yang menganjurkan berbuat jujur dalam traksasi, tidak mengurangi takaran dan mencari keuntungan yang sewajarnya merupakan sikap yang asing di mata masyarakkat jahiliyah. Kondisi seperti ini disinyalir oleh Rasulullah kelak akan terulang kembali. Benarkah? Zaman segini kalau tidak korupsi tentu sangat aneh dan asing. Pengelolah wartel misalnya, harga pulsanya mungkin tidak dapat dimanipulasi (baca dikorup), namun durasinya na’udzu billah, cepat banget. Kontraktor yang menang tender, takarannya semestinya satu tiga empat dikorup dengan satu lima sepuluh, sehingga jembatan belum diresmikan sudah ambruk hanya dilewati motornya komeng.

Pelanggan PLN pun mengkorup meteran, kalau bisa diakal jalannya tidak normal, atau diputar balik biar pihak PLN yang ganti rugi. Warung kejujuran di instansi pendidikan pun akrab dengan model “jimo” membayar siji (satu) yang dimakan “limo” (lima jajanan). Disaat hidup tanpa korupksi menjadi gaya hidup, masihkah ada manusia yang jujur. Dialah yang dianggap Rasulullah sebagai “insan yang asing” seperti tempo dulu. Semoga pola hidup kita tergolong hal yang asing yang dimaksudkan oleh Rasulullah. Bilamana demikian, maka berbahagialah kita, seperti yang didoakan dan dijanjikan oleh Rasulullah saw.

KEENAM, REFERENSI: Lebih lanjut silakan merujuk referensi berikut ini: Maqasid: 143. Tamyiz: 51. Kasyf: 1/282. Muslim: 145. Ibn Majah: 3986, 3987, 3988. Abu Ya’la: 6190. Thabrani: 6147. Bushiri: 4/178. Thabrani dalam al-Ausath: 1925. Ahmad: 3784. Turmudzi: 2629. Ibn Abi Syaibah: 34366. Darimi: 2755. Bazzar: 2069. Syasyi: 729. Abu Ya’la: 4975. Thabrani dalam al-Kabir: 11074. Thabrani dalam al-Ausath: 4915, 5806. Rafii: 3/490. Khatib al-Baqdadi: 12/481.


  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube