KONSORSIUMHADIS.COM

| PUSAT REFERENSI & STUDI HADITS | JLN PANGLIMA HIDAYAT NO 5B PUCANGANOM SIDOARJO JAWA TIMUR INDONESIA |

HOME » MELIHAT KE BAWAH BUKAN KE ATAS

MELIHAT KE BAWAH BUKAN KE ATAS

POSTED BY TURATSNABAWI CATEGORIES: ARTICLE_TURATS

PENULIS : UST. ZAINUDDIN MZ (DIREKTUR TURATS NABAWI | PUSAT STUDI HADITS)

PERTAMA, TEKS HADIS: Undzuru ila man asfala minkum wa la tandzuru ila man fauqakum, fainnahu ajdaru an la tazdaru ni’matallahi alaikum.

KEDUA, TERJEMAHAN: Lihatlah kondisi orang yang martabatnya di bawah kalian, jangan sebaliknya, melihat orang yang derajatnya di atas kalian. Yang sedemikian itu lebih layak, agar kalian tidak merendahkan kenikmatan Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian.

KETIGA, STATUS HADIS: Hadis shahih.

KEEMPAT, TAKHRIJ HADIS: Hadits di atas diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang dikeluarkan Bukhari, Muslim, Turmudzi, Ibn Majah, Ahmad, Thabrani dalam al-Ausath. Adapun redaksi pada Shahih al-Bukhari adalah idza nadhara ahadukum ila man fudhdhila alaihi fil mal wal khalqi falyandzur ila man huwa asfala minhu (Apabila ada hasrat seorang di antara kalian melihat apa yang dianugerahkan baginya berupa harta dan penciptaan, silahkan ia melihat orang yang nasibnya di bawahnya). Dengan demikian hadits ini tergolong muttafaq alaihi.

KELIMA, PENJELASAN HADIS: Kecemburuan sosial satu sisi sangat manusiawi dan pada sisi lainnya dapat menjadi biang mala petaka dalam kehidupan manusia itu sendiri. Hadits di atas memberi bimbingan terkait dengan strata sosial agar seseorang bercermin diri dengan teman yang nasibnya masih di bawahnya. Pertimbangan yang dapat difahami tampak dalam periwayatan Bukhari (Apabila ada hasrat seorang di antara kalian melihat apa yang dianugerahkan baginya berupa harta dan penciptaan, silahkan ia melihat orang yang nasibnya di bawahnya), pada periwayatan Muslim pun tampak dari sabda Rasulullah saw. Yang sedemikian itu lebih layak, agar kalian tidak merendahkan kenikmatan Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian. Tujuannya sama agar setiap manusia merasa qana’ah terhadap anugerah Ilahi, apa pun wujudnya. Dengan demikian yang bersangkutan lebih pandai mensyukuri kenikmatan yang diberikan kepadanya. Anda dapat membayangkan sekiranya yang dipandang adalah orang yang lebih tampan, lebih mewah, lebih tinggi kedudukan, lebih elegan dalam kehidupan, hal ini sering membuat iblis merasuki fikiran kita yang menginginkan hal yang serupa itu bahkan lebih, namun menggunakan cara yang tidak etis, bahkan mungkin melahirkan sikap suudzan (buruk sangka), akhirnya hasud dan memfitnah. Di berbagai instansi sering terjadi, hanya karena pingin mendapatkan kedudukan yang lebih tingga, dia tega melengserkan kerabatnaya sendiri dengan cara yang tidak wajar. Lebih-lebih masuk wilayah politik yang biasanya akrab untuk kepentingan sesaat, bukan kemaslahatan yang berkelanjutan. Na’udzubillah min dzalik.

Hal ini sangat berbeda dalam konteks kebajikan, kecemburuan sosial itu layak dimiliki, dengan demikian diharap setiap manusia berpacu dalam amal kebaikan. Seorang melihat temannya bagaimana kiprah sosialnya untuk dijadikan teladan dalam kehidupannya, semangat bekerjanya untuk dijadikan panutan. Menurut Al-Qur’an agar kita menjalankan al-istibaq (berlomba dalam kebajikan), sebagaimana firman-Nya: Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya. Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat di antara kamu. Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (Qs. Al-Maidah: 48). Dengan demikian dapat disimpulkan, pada aspek apa seyoqyanya kita melihat ke bawah, dan dalam aspek apa seharusnya kita melihat ke atas.

KEENAM, REFERENSI: Lebih lanjut silakan merujuk referensi berikut ini: Al-Maqasid: 103. Tamyiz: 34. Kasyf: 1/210. Bukhari: 6009. Muslim: 2963. Turmudzi: 2513. Ibn Majah: 4142. Ahmad: 7442. Thabrani dalam al-Ausath: 2343.


  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube