DEBAT CAPRES PALING SPEKTAKULER TAHUN 2019

DEBAT CAPRES PALING SPEKTAKULER TAHUN 2019

PENULIS: ABU NAWAS BARNABAS

Periode paling menarik saat Pilpres adalah saat debat kandidat. Uniknya, tahun ini akan ada kombinasi pasangan pendusta dan pemberi fatwa. Dalam debat, konsep yang akan dibawa sangat sederhana.

Satu pasangan calon kombinasi pendusta dan ahli fatwa, akan membuat kolaborasi debat yang paling memukau sepanjang sejarah. Duet maut ini, tidak akan mungkin dilawan oleh pasangan manapun.

Sang pendusta akan terus berbusa dengan janji dusta yang diulang-ulang. Sementara ahli fatwa, akan terus memberi fatwa halal pada setiap kedustaan yang dikumandangkan.

“Kita akan ambil alih Indosat, betul Pak kiyai ? Betul. Kita akan ambil alih Freeport, benar Pak kiyai ? Khair. Kita akan tutup pintu utang luar negeri, halal Pak kiyai ? Halal”.

“Kita jual seluruh aset, halal Pak kiyai ? Halal. Kita biarkan seluruh tambang dijarah asing, bagaimana Pak kiyai ? Thoyyib. Kita palak rakyat dengan pajak mencekik, setuju Pak kiyai ? Na’am”.

“Kita minta dana haji untuk bangun jalan, halal Pak kiyai ? Halal. Kita biarkan rakyat sakit, uangnya kita pake bangun Infrastuktur, boleh Pak kiyai ? Thoyyib. Kita bubarkan ormas Islam radikal, halal Pak kiyai ? Halal.”

Kombinasi dusta dan stempel halal ini, akan menjadi duet maut yang singa dan lawan. Jika menang, kombinasi dusta dan stempel kedustaan ini akan dimainkan untuk mengelola kekuasaan.

Kezaliman dan kedustaan yang ada, akan kembali dijalankan, bahkan dengan tingkat kedustaan yang lebih parah. Tetapi santai saja, sudah ada stempel halal yang akan siap “menghalalkan seluruh kedustaan dan kezaliman”.

Jadi tidak perlu melawan, tidak perlu argumen, tidak perlu dalil. Semua yang dijajakan sang pendusta, telah mendapat label halal dari fatwa ‘ulama’.

Demikianlah, negeri ini dirusak para pendusta. Para penzalim mencari legitimasi untuk membenarkan kedzalimannya. Sementara ulama’ dunia, ulama yang telah tertutup seluruh nadi hidupnya dengan syahwat dunia, memberi garansi dan legitimasi.

Jika tidak ingin membiarkan perkara ini, tidak juga mendapat pilihan ideal dari pilihan yang lain. Karena itu wahai umat, segeralah kembali kepada syariat Islam.

Buka kembali lembaran sejarah, buka kembali bagaimana Nabi Muhammad SAW meletakan dasar politik, bagaimana Rasulullah menegakan kekuasaan Islam, melalui dakwah beliau yang mulia. Jika Anda tidak kembali merujuk Nabi, niscaya Anda akan terombang-ambing oleh keadaan.

Berkonsentrasilah pada dakwah, menyiapkan umat, melakukan penyadaran politik Islam, sampai umat di negeri ini tersadarkan sebagaimana dahulu masyarakat Madinah menerima Islam. Jika kondisi masyarakat telah sadar dan menuntut diterapkannya kekuasaan Islam, maka hanya satu kali pukulan, demokrasi kufur ini pasti akan jatuh tersungkur dan ditinggalkan Umat. Masih mau di bodoh bodohi oleh demokrasi ?