TARTIB SHALAT

ADZAN & IQAMAT UNTUK SHALAT SENDIRIAN SERTA TATSWIB DALAM ADZAN SHUBUH

FORMAT BARU FATWA-FATWA TARJIH : TANYA JAWAB AGAMA

BY: DR. H. ZAINUDDIN MZ, LC., MA – NBM: 984477

DIREKTUR MARKAZ TURATS NABAWI _ PUSAT STUDI HADITS

5. ADZAN DAN IQAMAT UNTUK SHALAT SENDIRIAN (5/5)

Tanya: Apakah jika seseorang shalat sendirian, ia disyariatkan untuk mengumandangkan adzan dan iqamat?

Jawab: Terkait dengan pertanyaan anda ditemukan beberapa hadits sebagai berikut:

Hadits Uqbah bin Amir

وَعَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَعْجَبُ رَبُّكُمْ مِنْ رَاعِي غَنَمٍ فِي رَأسِ شَظِيَّةٍ بِجَبَلٍ, يُؤَذِّنُ بِالصَلَاةِ وَيُصَلِّي, فَيَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي هَذَا, يُؤَذِّنُ وَيُقِيمُ الصَلَاةَ يَخَافُ مِنِّي, قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي وَأَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ

Dinarasikan Uqbah bin Amir al-Juhani ra., Rasulullah saw. bersabda: Tuhanmu swt. kagum terhadap seorang pengembala domba di sebuah kaki bukit, ia menyerukan adzan untuk shalat kemudian ia shalat. Allah swt. berfirman: Lihatlah hamba-Ku itu, ia menyerukan adzan dan iqamat ketika akan shalat, ia takut pada-Ku. Sungguh Aku telah mengampuni dia, dan Aku masukkan dia ke surga.

Hr. Abu Dawud: 1203; Nasai: 666; Ahmad: 17478.

UPDATE TERBARU KARYA UST. H. ZAINUDDIN MZ _ KLIK DI SINI.

Hadits Abu Sa’id al-Khudri

وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ: (قَالَ لِي أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ, فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ بَادِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَلَاةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ, سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا إِنْسٌ) (وَلَا شَجَرٌ وَلَا حَجَرٌ) (إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ)

Abdullah bin Abdurrahman bin Abi Sha’sha’ah al-Anshari berkata: (Abu Sa’id al-Khudri berkata padaku: Sesungguhnya aku menyaksikan anda menyukai pengembalaan domba dan hidup di pedesaan. Saat anda di pengembalaan dombamu atau di pedesaan, kumandangkan adzan dengan mengeraskan suara. Aku mendengar Nabi saw. bersabda: Tidaklah kadar suara muadzin didengar jin dan manusia) (poho dan batu) (kecuali mereka akan memberi kesaksian baginya di hari kiamat).

Hr. Bukhari: 3122; Nasai: 644; Ibnu Majah: 723; Ahmad: 11045, 11323.

APLIKASI HADITS – VERIVIKASI NATIONAL & INTERNATIONAL _ KLIK DI SINI.

Hadits Salman al-Farisi

وَعَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا كَانَ الرَّجُلُ بِأَرْضِ قِيٍّ فَحَانَتِ الصَلَاةُ, فَلْيَتَوَضَّأ, فَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَاءً, فَلْيَتَيَمَّمْ, فَإِنْ أَقَامَ, صَلَّى مَعَهُ مَلَكَاهُ, وَإِنْ أَذَّنَ وَأَقَامَ, صَلَّى خَلْفَهُ مِنْ جُنُودِ اللهِ مَا لَا يُرَى طَرَفَاهُ

Dinarasikan Salman al-Farisi ra., Rasulullah saw. bersabda: Apabila seseorang berada di sahara, lalu datang waktu shalat, lalu ia wudhu. Jika ia tidak mendapatkan air, ia tayamum. Jika ia beriqamat, maka ia didampingi dua malaikat. Jika ia mengumandangkan adzan dan iqamat, maka ia akan dimakmumi laskar Allah yang tak habis dipandang kedua matanya.

Hr. Baihaqi: 1766; Thabrani dalam Mu’jam Kabir: 6120; Abdurrazaq dalam Mushanaf: 1955.

Kami sependapat dengan kesimpulan yang disampaikan oleh Muhammad al-Syaukani dalam kitab Nailul-Authar: 2/14, bahwa hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa adzan dan iqamat disyariatkan kepada orang yang shalat sendirian. Wallahu a’lam bis shawab.

DAFTAR PELATIHAN TAHSIN SHALAT BERSAMA UST. H. ZAINUDDIN MZ _ KLIK DI SINI.

6. TATSWIB DALAM ADZAN SUBUH (1/36)

Tanya: Apakah dalam faham Muhammadiyah adzan Subuh tidak memakai tatswib (yakni bacaan asshalatu khairun minan-naum)?

Jawab: Menurut keputusan Muktamar Tarjih di Palembang tahun 1956, dalam adzan Subuh muazdin hendaklah sesudah menyerukan hayya alal-falah, hayya alal-falah mengucapkan taswib yaitu bacaan asshalatu khairun minan-naum, asshalatu khairun minan-naum. Hal ini didasari hadits berikut ini:

Hadits Abu Mahdzurah

عَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنْ كَانَ صَلَاةُ الصُّبْحِ وَفِي رِوَايَةٍ: (وَإِذَا أَذَّنْتَ بِالْأَوَّلِ مِنْ الصُّبْحِ) قُلْتَ: الصَلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ, الصَلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ, اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

Abu Mahdzurah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda padaku: Pada saat shalat Subuh. Dalam riwayat lain: (Pada saat adzan awal waktu Subuh), maka ucapkanlah, Asshalatu khairun minan naum 2x, Allahu akbar 2x. La ilaha illallah.

Hr. Abu Dawud: 500, 501; Nasai: 633; Ahmad: 15376, 15413, 15416.

WEBSITE CLEAN DENGAN HARGA TERJANGKAU _ KLIK DI SINI.

Catatan:

Redaksi hadits yang dipaparkan TIM Fatwa bias, karena setelah ditakhrij secara sempurna, ditemukan bacaan tatswib itu ada pada dua waktu, yaitu pada waktu shalat Subuh, dan pada waktu adzan awal (malam).

Redaksi dengan ‘adzan awal’ (malam) itu dapat diperiksa pada: Abu Dawud: 501; Nasai: 633; Ahmad: 15376.

Jadi bacaan taswib menurut putusan Muktamar Tarjih di Palembang adalah masyru’ (sesuai dengan hukum syariah). Kemudian masalah ini dikaji ulang dalam Muktamar Tarjih XXI di Klaten (Jawa Tengah), apakah bacaan tersebut diucapkan pada adzan awal (malam hari) atau pada adzan kedua (waktu Subuh). Karena keduanya sama-sama mempunyai dalil yang mendukung, maka dalam Muktamar tersebut belum berhasil mengambil keputusan.

Kemudian permasalahan ini dibawa ke Muktamar Tarjih XXII di Malang tahun 1989, dimana keputusannya berbunyi: (1) adzan awal (malam) dan adzan tsani (Subuh) disyariatkan (masyru’), dan (2) bacaan taswib disyariatkan pada adzan pertama, sedangkan pada adzan kedua belum disepakati ada dan tidak adanya bacaan tersebut.

AMANKAN PERANGKAT ANDA DARI KEJAHATAN CYBER !!! GUNAKAN EMAILMU – DAFTAR GRATIS – UNDUH SOFTWARENYA – KLIK DI SINI.

Sedangkan dalam Muktamar Tarjih XXIII di Aceh 1995, karena sempitnya waktu (hanya dua hari), maka Majelis Tarjih tidak mengagendakan masalah-masalah ibadah dalam acara sidang Muktamar tersebut.

Pembahasannya terfokus pada dua masalah. Yaitu kebudayaan dan perburuhan.

Jadi belum ada ketegasan baru tentang taswib pada adzan Subuh. Karena itu putusan muktamar Tarjih di Palembang belum dicabut, maka putusan tersebut masih tetap berlaku.

Catatan:

TIM Fatwa belum memaparkan bacaan tatswib yang dikumandangkan oleh Bilal, padahal itu adalah akar masalah dan sejarah awal tambahan tatswib dalam adzan fajar. Dan perlu diketahui pada redaksi hadits-hadits Bilal dengan menggunakan lafadz fajar dan Subuh, sehingga pemaknaannya bisa adzan awal (malam) dan bisa adzan Subuh. Lantas dari kedua pemaknaan itu, mana yang lebih dekat?

ASAH BAHASA ASING UNTUK PUTRA-PUTRI ANDA & UMUM – TEMUKAN MENTORNYA – GUNAKAN EMAILMU – DAFTAR AKUNMU – GRATIS – KLIK DI SINI.
SILAHKAN IKUTI KAMI & SHARE KE SESAMA - SEMOGA BERMANFAAT :
error: MAAF !!