TARTIB SHALAT

HADITS SHAHIH CARA SUJUD BAGIAN 6

FORMAT BARU FATWA-FATWA TARJIH : TANYA JAWAB AGAMA

BY: DR. H. ZAINUDDIN MZ, LC., MA – NBM: 984477

DIREKTUR MARKAZ TURATS NABAWI _ PUSAT STUDI HADITS

56. HADITS SHAHIH CARA SUJUD BAGIAN 6

BERBAGAI KENDALA MEMAHAMI TEKS RIWAYAT AL-DARAWARDI

Setidaknya ditemukan 3 syubuhat terkait dengan keabsahan riwatat Abu Hurairah tentang cara sujud dengan mendahulukan tangan daripada lutut. Yaitu, Pertama, hadits Abu Hurairah dinilai maqlub (terbalik); Kedua, hadits Abu Hurairah dinilai bermasalah dan kacau balau; dan ketiga, hadits Abu Hurairah dinilai mansukh.

Memang ditemukan kaedah, bahwa sahnya sanad tidak otomatis validnya matan.

Dalam Zad Ma’ad dipaparkan bahwa periwayatan Abu Hurairah, “janganlah kalian sujud bagaikan berderumnya unta, maka letakkan tanganmu sebelum anda meletakkan lututmu” dinilai matannya maqlub (terbalik), seharusnya redaksinya, “maka letakkan kedua lututmu sebelum anda meletakkan kedua tanganmu”. Dengan demikian tata cara sujud itu, pertama meletakkan kedua lutut, kedua meletakkan kedua tangan, dan ketiga meletakkan dahi dan hidung.

UPDATE TERBARU KARYA UST. H. ZAINUDDIN MZ _ KLIK DI SINI.

Pertama, unta itu apabila berderum, dia meletakkan kedua tangan, sementara kedua kakinya masih tetap tegak (berdiri), dan ketika bangkit, maka dia memulai dengan kedua kakinya dan kedua tangan masih dalam posisi menempel bumi. Maka sikap seperti ini yang justru dilarang, dan Nabi saw. menyuruh untuk menyelisihinya.

Kedua, pernyataan “lutut unta ada pada tangannya” adalah ungkapan yang tidak dikenal oleh pakar bahasa. Semestinya lutut itu pada kaki (dan kaki unta pada kaki belakangnya).

Ketiga, jika pendapat lawan yang benar, semestinya Nabi saw. bersabda, “agar kamu turun sujud sebagaimana berderumnya unta”, karena unta itu ketika berderum, dia mendahulukan tangannya.

APLIKASI HADITS – VERIVIKASI NATIONAL & INTERNATIONAL _ KLIK DI SINI.

Akar masalahnya, dimana letak lutut unta, di kaki depan atau kaki belakangnya. Karena berderumnya unta itu berbeda dengan hewan-hewan lain yang berkaki empat.

Dalam kenyataan, untuk itu apabila berderum, ternyata melipat dan meletakkan kaki depannya terlebih dahulu, kemudian barulah melipat dan meletakkan kaki belakangnya.

Dalam pandangan Ibnu Qayim, lutut unta itu ada di kaki belakangnya (kaki bagi manusia), sehingga jika unta berderum, dia mendahulukan tangannya. Sikap seperti inilah yang harus diselisihi agar tidak sama dengan cara berderumnya unta.

PENDIDIKAN & PELATIHAN ILMU HADITS – BERSAMA DR. H. ZAINUDDIN MZ, LC., MA _ KLIK DI SINI.

Namun paparan seperti ini dianggap nyleneh, karena jika merujuk kepada kamus pakar bahasa justru sebaliknya, bahwa unta itu jika berderum, dia meletakkan lutut yang ada di kaki depannya terlebih dahulu. Maka jika anda sujud, jangan meletakkan lutut terlebih dahulu biar tidak seperti berderumnya unta.

Sebagaimana dimaklumi, ajaran Islam itu kebenarannya mutlak, berlalu untuk semua orang. Ketika penulis berada di masjid Nabawi, penulis menyaksikan tidak mungkin orang-orang yang gemuk itu mendahulukan lutut ketika sujud, apalagi bawi wanita yang hamil tua. Mereka baru dapat sujud jika mereka meletakkan tangan terlebih dahulu, kemudian meletakkan lututnya.

DAFTAR PELATIHAN TAHSIN SHALAT BERSAMA UST. H. ZAINUDDIN MZ _ KLIK DI SINI.

Tawaran pola fikir bahwa namanya meletakkan itu logikanya yang agak rendah lalu yang agak tinggi dan seterusnya, sehingga yang paling rendah adalah lutut, kemudian agak tinggi adalah tangan, kemudian yang agak tinggi adalah dahi dan hidung juga tertolak. Karena ditemukan hadits shahih bahwa apabila Nabi saw. bangkit dari sujud, maka beliau bersanggah pada kedua tangannya ke bumi.

Hadits ini menjelaskan bahwa sewaktu bangkit dari sujud, bukan tangan yang diangkat sebelum lutut, melainkan lutut dulu kemudian tangan. Cara seperti inilah yang bisa dilakukan semua orang. Tidak semua orang mampu mengangkat tangan dulu sebelum lututnya.

PASANG IKLAN ANDA DI SINI_KLIK DI SINI.

Perbincangan seperti ini tidak lebih dari mengandalkan penalaran belaka, yang endingnya merasa benar dalam satu sisi namun bermasalah pada sisi lainnya. Lantas kenapa tidak mengacu kepada hadits yang shahih. Itulah sebabnya Ibnu Hajar al-Asqalani, sang amirul mukmini dalam kajian hadits menyatakan bahwa hadits riwayat Abu Hurairah (mendahulukan tangan sewaktu sujud) jauh lebih rajih ketimbang haditsnya Wail bin Hujr (yang mendahulukan lutut sewaktu sujud).

AMANKAN PERANGKAT ANDA DARI KEJAHATAN CYBER !!! GUNAKAN EMAILMU – DAFTAR GRATIS – UNDUH SOFTWARENYA – KLIK DI SINI.

Hadits Abu Hurairah merupakan hadits qauli, sementara hadits Wail bin Hujr adalah hadits fi’li. Dalam pola berfikir, bagaimana pun hadits qauli itu harus dikedepankan terhadap hadits fi’li. Wallahu a’lam.

ASAH BAHASA ASING UNTUK PUTRA-PUTRI ANDA & UMUM – TEMUKAN MENTORNYA – GUNAKAN EMAILMU – DAFTAR AKUNMU – GRATIS – KLIK DI SINI.
SILAHKAN IKUTI KAMI & SHARE KE SESAMA - SEMOGA BERMANFAAT :
error: MAAF !!