TARTIB SHALAT

HADITS SHAHIH CARA SUJUD BAGIAN 7‎

FORMAT BARU FATWA-FATWA TARJIH : TANYA JAWAB AGAMA

BY: DR. H. ZAINUDDIN MZ, LC., MA – NBM: 984477

DIREKTUR MARKAZ TURATS NABAWI _ PUSAT STUDI HADITS

57. HADITS SHAHIH CARA SUJUD BAGIAN 7

BERBAGAI KENDALA MEMAHAMI TEKS RIWAYAT AL-DARAWARDI

Syubuhat Kedua:

1. Hadits Abu Hurairah Dinilai Bermasalah

UPDATE TERBARU KARYA UST. H. ZAINUDDIN MZ _ KLIK DI SINI.

Hadits riwayat Abu Hurairah (mendahulukan tangan sewaktu sujud) dinilai bermasalah dan kalau balau.

Untuk dapat mengikuti kajian sanad hadits Abu Hurairah, berikut penulis nukilkan kembali teks dan sanadnya:

أَخْرَجَ أبي داود  840  حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَسَنٍ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيرُ، وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ»

Syubuhat pertama, hadits ini dinilai Bukhari cacat, karena perawi Muhammad bin Abdullah bin Hasan menyendiri, dan tidak memiliki kesaksian periwayatan, bahkan Bukhari mempertanyakan, apakah ia (murid) menerima hadits itu dari gurunya (Abu Zinad) atau tidak?

Hadits itu dinilai Tirmidzi, ini hadits gharib, hanya ditemukan dari Abu Zinad kecuali lewat jalur sanad ini.

APLIKASI HADITS – VERIVIKASI NATIONAL & INTERNATIONAL _ KLIK DI SINI.

Hadits itu juga dinilai Daraqutni, Abdul Aziz al-Darawardi menyendiri dalam periwayatan ini dari Muhammad bin Abdullah bin Hasan dari Abu Zinad.

Ketiga ulama di atas mengkritisi penyendirian perawi dan mempertanyakan apakah murid pernah bertemu dengan gurunya atau tidak?

Terkait dengan syubuhat ini berikut penulis paparkan biografi perawi murid dan gurunya.

Biografi Murid (Muhammad ibn Abdullah)

Muhammad ibn Abdullah ibn Hassan Abu Abdul-lah al-Hasyimi, wafat pada tahun (145 H). Gurunya: Abdullah ibn Zakwan Abu al-Zinad. Muridnya: Abdul Aziz ibn Muhammad ibn Abid ibn Abu Abid, dan Abdullah ibn Nafi’ ibn Abu Nafi’. Penilaian: Nasai: Tsiqat; dan ibn Hibban: Tsiqat. [tsiqah]

PENDIDIKAN & PELATIHAN ILMU HADITS – BERSAMA DR. H. ZAINUDDIN MZ, LC., MA _ KLIK DI SINI.

Biografi Guru (Abu Al-Zinad,Abdullah ibn Zakwan)

Abdullah ibn Zakwan Abu al-Zinad al-Qurasyi, wafat pada tahun 130 H. Gurunya: Kharijah ibn Zaid ibn Tsabit, Abdurrahman ibn Hurmuz, Abdullah ibn Ubeidillah ibn Umar ibn al-Khattab, Al-Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar al-Shiddiq, Mujalid ibn Auf, dan Musa ibn Abu Usman. Muridnya: Ibrahim ibn Uqbah ibn Abu Ayasy, Sa’id ibn Abu Hilal, Sufyan ibn Uyainah ibn Abu Imran Maimun, Syu’aib ibn Abu Hamzah ibn Dinar, Abdurrahman ibn Ishak ibn Abdullah, Ubeidillah ibn Umar ibn Hafes ibn Ashim, Malik ibn Anas ibn Malik ibn Abu Amir, Muhammad ibn Abdullah ibn Hasan, Muhammad ibn Ajlan, Al-Mughirah ibn Abdurrahman ibn Abdullah ibn Khalid ibn Hizam, dan Musa ibn Uqbah ibn Abu Ayasy. Penilaian: Ahmad ibn Hanbal: Tsiqat; Yahya ibn Ma’in: Tsiqat hujjah; Abu Hatim al-Razi: Tsiqat; Al-Ijli: Tsiqat; Muhammad ibn Sa’ad: Tsiqat; dan Nasai: Tsiqat. [tsiqah]

DAFTAR PELATIHAN TAHSIN SHALAT BERSAMA UST. H. ZAINUDDIN MZ _ KLIK DI SINI.

Dari paparan biografi murid dan guru di atas dapat difahami sebagai berikut:

Walaupun murid (Muhammad ibn Abdullah ibn Hassan) menyendiri dalam periwayatan hadits, namun karena statusnya adalah perawi tsiqat, maka menurut ijma’ ulama, haditsnya dapat diterima, dan tidak menjadi masalah. Itulah sebabnya ditemukan hadits-hadits gharib (penyendirian perawi) namun status haditsnya shahih, seperti hadits innamal a’mal bin niyat …  dan lainnya.

Keraguan Bukhari apakah murid mendapatkan hadits itu dari gurunya atau tidak? Hal itu merupakan kewajaran. Karena murid meriwayatkan dengan sighat “an Abi Zinad”, sehingga tidak ditemukan “tahahhq liqa’” yang menjadi persyaratan Bukharu. Hal ini berbeda dengan kriteria selain Bukhari. Yang penting adalah muasharah (hidup sezaman). Maka dapat difahami, guru wafat tahun 130 H, sementara muridnya wafat tahun 145 H, ini artinya baik guru maupun murid adalah hidup sezaman, maka haditsnya shahih, tanpa diragukan.

PASANG IKLAN ANDA DI SINI_KLIK DI SINI.

2. Hadits Abu Hurairah Dinilai Kacau Balau.

Pada alenia pertama, ada kesamaan redaksi. Yakni jika anda sujud, maka janganlah anda sujud sebagaimana berderumnya unta.

Namun pada alenia kedua terjadi teks yang bertolak belakang. Ada yang redaksinya, “maka letakkan tangan sebelum lututmu”, namun pada teks yang lain dengan redaksi, “maka letakkan lutut sebelum tanganmu”. Dengan demikian terjadi kontradiksi atau kekacau balauan. Dalam ilmu hadits, semua hadits yang terbukti kacau balau adalah dhaif.

Terkait dengan syubuhat ini, berikut penulis paparkan penjelasannya.

Hadits dinilai kacau balau kalau derajatnya sana namun isinya tumpang tindih (kontradiksi), dan tidak mungkin dipadukan. Karena tidak sedikit yang dhahir matannya kontradiksi namun semuanya dapat dipadukan.

Terkait haditw Abu Hurairah tentang cara sujud. Memang ditemukan tambahan redaksi pada alenia kedua, maka letakkan kedua tangan sebelum lututmu. Setelah diadakan kajian yang detail dapat disimpulkan hadits dengan tambahan tersebut statusnya adalah shahih.

Memang ditemukan hadits riwayat Abu Hurairah dengan tambahan redaksi, maka letakkan lutut sebelum tanganmu”. Yakni berikut ini:

فَقَالَ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، عَنْ عبد الله بن سعيد، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ( «إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِرُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ، وَلَا يَبْرُكْ كَبُرُوكِ الْفَحْلِ» )

Hr. ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannafat: (1/102/2), al-Thahawi, Baihaqi dan Ibnu Abi Dawud (Abdullah bin Sulaiman al-Azdi al-Sijistani), dengan sanad: Abdullah ibn Sa’id al-Maqburi dari kakeknya dari Abu Hurairah, Nabi saw. bersabda: “Apabila seorang di antara kalian sujud maka hendaklah ia memulai meletakkan kedua lututnya sebelum ia meletakkan kedua tangannya”.

AMANKAN PERANGKAT ANDA DARI KEJAHATAN CYBER !!! GUNAKAN EMAILMU – DAFTAR GRATIS – UNDUH SOFTWARENYA – KLIK DI SINI.

Namun pada sanad hadits ini terdapat perawi Abdullah ibn Sa’id al-Maqburi yang dinilai terlalu lemah bahkan dituduh sebagai pemalsu hadits.

Dengan demikian hadits dengan sisipan itu statusnya sangat lemah dan tidak dapat dijadikan sebagai hujah.

Untuk itu Baihaqi (selaku kodifikator) dan ibn Hajar dalam kitabnya al-Fath al-Bari: (2/241) menyatakan sanadnya lemah.

Penjelasan seperti ini sekaligus untuk meluruskan bagi mereka yang menuduh bahwa riwayat Abu Hurairah dinilai kacau balau. Atau dengan pengertian lain, hadits yang sah dari Abu Hurairah adalah peletakkan tangan terlebih dahulu, bukan mendahulukan peletakkan kedua lutut.

Dengan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa riwayat Abu Hurairah dengan sisipan pertama (letakkan tangan sebelum lutut) adalah benar sedangkan dengan sisipan kedua (letakkan lutut sebelum tangan) adalah munkar.

Maka tuduhan hadits cara sujud mendahulukan tangan kacau balau tidak benar. Sedemikian pula penilaian hadits Abu Hurairah dengan sisipan pertama tidak tepat jika dinilai maqlub (terbalik).

ASAH BAHASA ASING UNTUK PUTRA-PUTRI ANDA & UMUM – TEMUKAN MENTORNYA – GUNAKAN EMAILMU – DAFTAR AKUNMU – GRATIS – KLIK DI SINI.
SILAHKAN IKUTI KAMI & SHARE KE SESAMA - SEMOGA BERMANFAAT :
error: MAAF !!