TARTIB SHALAT

RISALAH I’TIDAL

FORMAT BARU FATWA-FATWA TARJIH : TANYA JAWAB AGAMA

BY: DR. H. ZAINUDDIN MZ, LC., MA – NBM: 984477

DIREKTUR MARKAZ TURATS NABAWI _ PUSAT STUDI HADITS

45. Risalah I’tidal (BAGIAN-1)

Artikel ini hanya memaparkan sifat i’tidal, apakah bersedekap atau irsal? Bahasan berikutnya adalah bacaan sewaktu i’tidal, tumakninah, larangan membaca Al-Qur’an sewaktu i’tidal dan permasalahan lainnya akan dipaparkan secara bertahap. Semoga bermanfaat untuk semua.

UPDATE TERBARU KARYA UST. H. ZAINUDDIN MZ _ KLIK DI SINI.

Kata Pengantar

انَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ سَيِّآتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَ نُصَلِّى وَ نُسَلِّمُ عَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Di antara kewajiban shalat adalah i’tidal. Hal yang banyak ditanyakan masyarakat, sewaktu tegak dari ruku’, apakah posisi tangan disedekapkan atau dilepaskan? Dalam buku empat puluh empat kesalahan dalam shalat hal ini sama sekali tidak dibahas. Karena memupunyai konsekuwensi. Jika yang benar adalah sedekap, maka melepaskan tangan adalah salah, atau sebaliknya, jika yang benar melepaskan tangan, maka yang bersedekap adalah salah.

Atau kedua-duanya dianggap benar jika kedua-duanya pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Padahal yang dapat difahami dari hadits kebenaran itu hanya satu.

Berangkat dari kasus seperti inilah kita ingin mendidik para penulis (mubaligh) agar tidak cepat menyalahkan ijtihad orang lain dan mengklaim hasil ijtihad imamnya sendiri yang benar. Karena suatu hadits bisa benar, namun interpretasi bisa saja berbeda. Lalu hasil ijtihad siapa yang harus dikultuskan?

Dalam kasus ini terdapat dua kelompok di kalangan salafi. Versi pertama adalah sedekap, sedangkan versi kedua adalah melepas tangan.

APLIKASI HADITS – VERIVIKASI NATIONAL & INTERNATIONAL _ KLIK DI SINI.

Akar Masalah

Akar masalah kasus ini karena tidak ditemukan hadits yang spesifik yang menjelaskan bagaimana posisi tangan Nabi saw. ketika i’tidal.

Menurut kaidah yang disepakati. Jika dalam satu kasus shalat tidak ditemukan dalil yang spersifik, maka kembali ke hukum asalnya.

Sementara ulama masih berbeda hukum asal shalat itu apa. Ada yang menyatakan sedekap dan ada pula yang mengatakan melepas tangan.

PENDIDIKAN & PELATIHAN ILMU HADITS – BERSAMA DR. H. ZAINUDDIN MZ, LC., MA _ KLIK DI SINI.

Argumentasi

Dalam masalah ini ditemukan hadits-hadits sebagai berikut:

1. Hadits Ibnu Abbas ra.

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلَّم: إِنَّا مَعْشَرَ الْأَنْبِيَاءِ أُمِرْنَا أَنْ نُعَجِّلَ إِفْطَارَنَا وَنُؤَخِّرَ سُحُورَنَا, وَنَضَعَ أَيْمَانَنَا عَلَى شَمَائِلِنَا فِي الصَّلَاةِ

Dinarasikan Ibnu Abbas ra., Rasulullah saw. bersabda: Kami para Nabi diperintah untuk menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan makan sahur, dan diperintah meletakkan tangan kanan pada tangan kiri sewaktu shalat.

Hr. Ibnu Hibban: 1770; Daraqutni: 1/284, hadits: 3; Thabrani dalam Ausath: 1844 dan Abu Dawud Thayalisi dalam musnad: 2654.

2. Hadits Sahal bin Sa’ad al-Sa’idi:

وَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيَّ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُونَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ الْيَدَ الْيُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ الْيُسْرَى فِي الصَّلَاةِ, قَالَ أَبُو حَازِمٍ: لَا أَعْلَمُهُ إِلَّا يَنْمِي ذَلِكَ إِلَى النَّبِيِّ صلى اللهُ عليه وسلَّم

Sahal bin Sa’ad al-Sa’idi ra. berkata: Umat diperintah meletakkan tangan kanan pada lengan kirinya sewaktu shalat. Abu Hazim berkata: Aku tidak mengetahuinya kecuali dinisbatkan kepada Nabi saw.

Hr. Bukhari: 707; Malik: 376; Baihaqi: 2158; dan Ahmad: 22900.

3. Hadits Abdullah bin Mas’ud ra.

وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: رَآنِيَ رَسُولُ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلَّم وَقَدْ وَضَعْتُ شِمَالِي عَلَى يَمِينِي فِي الصَّلَاةِ, فَأَخَذَ بِيَمِينِي فَوَضَعَهَا عَلَى شِمَالِي

Abdullah bin Mas’ud ra. berkata: Rasulullah saw. menyaksikan sewaktu aku shalat, aku meletakkan tangan kiri pada tangan kananku, lalu beliau melepaskannya dan meletakkan tangan kanan pada tangan kiriku.

Hr. Abu Dawud: 755; Nasai: 888; dan Ibnu Majah: 811.

4. Hadits Wail bin Hujr

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ رضي الله عنه قَالَ: … (حَتَّى رَأَيْتُ إِبْهَامَيْهِ قَرِيبًا مِنْ أُذُنَيْهِ) (ثُمَّ الْتَحَفَ بِثَوْبِهِ, ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى) (عَلَى كَفِّهِ الْيُسْرَى وَالرُّسْغِ وَالسَّاعِدِ) وَفِي رِوَايَةٍ: (قَبَضَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ) (عَلَى صَدْرِهِ)

Wail bin Hujr ra. berkata: … (sehingga aku menyaksikan ibu jarinya dekat dengan telinganya) (lalu melipat pakaiannya, lalu meletakkan tangan kanan) (pada telapak tangan kiri dan pergelangan dan lengannya). Dalam riwayat lain: (mendekap tangan kanan pada tangan kirinya) (dan meletakkan pada dada).

Hr. Muslim: 401; Abu Dawud: 726, 727, 737; Tirmidzi: 292; Nasai: 879, 887, 889, 932, 1102; Ibnu Majah: 810, 867; Ahmad: 18869, 18870, 18890, 22017.

5. Hadits Rifa’ah bin Rafi ra.

عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ رضي الله عنه قَالَ: (دَخَلَ رَجُلٌ الْمَسْجِدَ وَرَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم جَالِسٌ فِي نَاحِيَةِ الْمَسْجِدِ) فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (ثُمَّ يَقُولُ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ) (حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا) (فَإِذَا رَفَعْتَ رَأسَكَ فَأَقِمْ صُلْبَكَ حَتَّى تَرْجِعَ الْعِظَامُ إِلَى مَفَاصِلِهَا)

Rifa’ah bin Rafi’ al-Zuraqi ra. berkata: Seorang sahabat masuk masjid saat Nabi saw. dudu di salan satu sisi masjid … Maka Rasulullah saw. bersabda: (Kemudian ia mengucapkan: Allah maha mendengar orang yang memuji pada-Nya) (hingga berdiri tegak) (Jika anda mengangkat kepalamu, tegakkan tulang sulbimu sehingga setiap tulang kembali pada persendiannya).

Hr. Ibnu Hibban: 1787; Abu Dawud: 857; Nasai: 1136 dan Ahmad: 19017.

DAFTAR PELATIHAN TAHSIN SHALAT BERSAMA UST. H. ZAINUDDIN MZ _ KLIK DI SINI.

Analisa

Dari paparan berbagai hadits di atas, tidak ditemukan hadits yang spesifik yang menjelaskan bagaimana posisi tangan Rasulullah saw. ketika i’tidal. Periwayatan dengan berbagai redaksi:

diperintah meletakkan tangan kanan pada tangan kiri sewaktu shalat, atau:

diperintah meletakkan tangan kanan pada lengan kirinya sewaktu shalat, atau:

lalu beliau melepaskannya dan meletakkan tangan kanan pada tangan kiriku, atau:

lalu meletakkan tangan kanan pada telapak tangan kiri dan pergelangan dan lengannya. Dalam riwayat lain: mendekap tangan kanan pada tangan kirinya atau:

Jika anda mengangkat kepalamu, tegakkan tulang sulbimu sehingga setiap tulang kembali pada persendiannya

Semuanya bias, bisa difahami saat orang telah memasuki shalat yang ditandai dengan takbiratul ihram, atau pada setiap posisi tegaknya tulang sulbi.

Jika yang dimaksud sikap setelah takbiratul ihram, maka ulama sepakat, begitulah contoh dan yang diperintahkan oleh Rasulullah saw. dalam tata cara shalat.

Maka jika ada seorang yang shalat tidak sedekap setelah takbiratul ihram, agar diingatkan dengan hadits-hadits tersebut.

Adanya pemikiran, bahwa pada setiap gerakan shalat posisi tangan selalu bersedekap, kecuali jika ada pengkhususan-nya. Seperti ketika ruku’, posisi telapak tangan diletakkan pada lutut, ketika sujud diletakkan pada bumi, ketika duduk tasyahud diletakkan pada paha (lutut). Karena dalam posisi i’tidal tidak ada dalil yang mengkhusus-kannya, maka kembali ke asalnya, yakni sedekap.

PASANG IKLAN ANDA DI SINI_KLIK DI SINI.

Hal ini sangat berbeda bagi mereka yang menyatakan sikap i’tidal adalah melepas tangan (tidak sedekap). Karena memahami awal sebelum shalat adalah melepas tangan, setelah bertakbiratul ihram, barulah ada perintah untuk bersedekap. Maka kembali ke asal berarti kembali ke posisi sebelum shalat, yakni melepas tangan.

Adanya pemikiran, pada setiap gerakan shalat posisi tangan selalu bersedekap, kecuali jika ada pengkhususannya. Seperti ketika ruku’, posisi telapak tangan diletakkan pada lutut, ketika sujud diletakkan pada bumi, ketika duduk tasyahud diletakkan pada paha (lutut). Karena dalam posisi i’tidal tidak ada dalil yang mengkhususkannya, maka kembali ke asalnya, yakni sedekap.

Cara berfikir seperti itu perlu ditinjau kembali. Karena gerakan yang tidak ada pengkhususan bukan hanya sewaktu i’tidal. Saat duduk antara dua sujud juga tidak ditemukan dalil khusus. Jika pola fikir itu dilakukan, maka posisi tangan bersedekap bukan hanya pada saat i’tidal, melainkan juga saat duduk antara dua sujud.

Bagi kelompok kedua, baik posisi i’tidal maupun duduk antara dua sujud semestinya sama-sama melepaskan tangan, dan tidak sedekap. Untuk kasus i’tidal tidak menjadi masalah, namun untuk duduk antara dua sujud, jika dipraktekkan melepaskan tangan berakibat seperti duduknya orang yang sedang disiksa.

Maka secara terpaksa untuk duduk antara dua sujud posisi tangan tidak dilepaskan, melainkan dianalogkan dengan duduk tasyahud. Yakni telapak tangan kanan diletakkan pada paha atau lutut kaki kanan dan telapak tangan kiri diletakkan pada paha atau lutut kaki kiri.

AMANKAN PERANGKAT ANDA DARI KEJAHATAN CYBER !!! GUNAKAN EMAILMU – DAFTAR GRATIS – UNDUH SOFTWARENYA – KLIK DI SINI.

Catatan Akhir

Yang menjadi kewajiban shalat adalah i’tidal. Tentang tata caranya tentu tidak masuk dalam kewajiban shalat. Ulama mengatagorikan sunah shalat. Sama dalam kasus mengawali shalat. Yang menjadi kewajiban shalat adalah takbiratul ihram, tentang tata caranya tentu tidak masuk dalam kewajiban shalat.

Oleh sebab itu diharapkan setiap orang menkaji lebih detail kemudian mencari mana yang diyakini lebih dekat untuk kesempurnaan shalatnya. Tanpa harus menyalahkan hajil ijtihad ulama lain. Dari analisa berbagai dalil di atas, tampaknya tidak sedekap lebih dekat dengan tuntunan.

Indahnya dalam kasus seperti ini merenungkan pernyataan imam Ahmad bin Hanbal, Jika seseorang bangkit dari ruku’, maka jika ia mau, ia bisa melepaskan tanggannya (tidak sedekap) dan jika mau, ia pun bisa meletakkan tangan kanan pada tangan kirinya (sedekap).

ASAH BAHASA ASING UNTUK PUTRA-PUTRI ANDA & UMUM – TEMUKAN MENTORNYA – GUNAKAN EMAILMU – DAFTAR AKUNMU – GRATIS – KLIK DI SINI.
SILAHKAN IKUTI KAMI & SHARE KE SESAMA - SEMOGA BERMANFAAT :
error: MAAF !!