TARTIB SHALAT

SUTRAH SHALAT

FORMAT BARU FATWA-FATWA TARJIH : TANYA JAWAB AGAMA

BY: DR. H. ZAINUDDIN MZ, LC., MA – NBM: 984477

DIREKTUR MARKAZ TURATS NABAWI _ PUSAT STUDI HADITS

4. SUTRAH SHALAT

Tanya: Apakah dasar hukumnya seorang yang shalat disyariatkan menghadap sutrah?

Jawab: Dalil-dalil disyariatkan orang yang shalat menghadap sutrah adalah sebagai berikut:

Hadits Sabrah bin Ma’bad al-Juhani

وَعَنْ سَبْرَةَ بْنِ مَعْبَدٍ الْجُهَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِيَسْتَتِرْ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ وَلَوْ بِسَهْمٍ

Dinarasikan Sabrah bin Ma’bad al-Juhani ra., Rasulullah saw. bersabda: Hendaklah seorang di antara kalian mengambil sutrah sewaktu shalatnya walaupun dengan menancapkan anak panah.

Hr. Hakim: 925; Ibnu Khuzaimah: 810; Ahmad: 15376, dan Ibnu Abi Syaibah: 2862.

Hadits Anas bin Malik

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: (كَانَ المُؤَذِّنُ إِذَا أَذَّنَ, قَامَ) (كِبَارُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْتَدِرُونَ السَّوَارِيَ) (حَتَّى يَخْرُجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ كَذَلِكَ، يُصَلُّونَ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ المَغْرِبِ(

Anas bin Malik ra. berkata: (Saat muadzin mengumandangkan adzan, maka) (berdirilah para tokoh sahabat Nabi saw, mendekati tiang-tiang masjid) (sehingga Nabi saw. keluar –dari rumahnya- dan mereka tetap masih seperti itu, yakni melaksanakan shalat dua rakaat qabliyah Maghrib).

Hr. Bukhari: 481, 599; Nasai: 682, dan Ahmad: 14015.

Hadits Ibnu Umar ra.

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: (كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْدُو إلَى الْمُصَلَّى فِي يَوْمِ الْعِيدِ وَالْعَنَزَةُ تُحْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَإِذَا بَلَغَ الْمُصَلَّى نُصِبَتْ بَيْنَ يَدَيْهِ فَيُصَلِّي إِلَيْهَا) (وَالنَّاسُ وَرَاءَهُ، وَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السَّفَرِ) (وَذَلِكَ أَنَّ الْمُصَلَّى كَانَ فَضَاءً لَيْسَ فِيهِ شَيْءٌ يُسْتَتَرُ بِهِ) (فَمِنْ ثَمَّ اتَّخَذَهَا الْأُمَرَاءُ)

Ibnu Umar ra. berkata: (Rasulullah saw. menuju shalat hari raya sambil membawa tongkat kecil. Jika sampai di tanah lapang, beliau menancapkan dan menjadikan sutrah shalatnya) (sementara umat di belakangnya. Beliau juga melakukan seperti itu saat bepergian) (Yang sedemikian itu karena tempat shalat merupakan sahara yang tidak ada tabirnya) (Lalu sunah seperti itu diikuti oleh para pemimpin sesudahnya).

Hr. Bukhari: 472, 930; Muslim: 501; Ibnu Khuzaimah: 1435; Abu Dawud: 687; Nasai: 1565; Ibnu Majah: 1304, 1305; Baihaqi: 5964.

Hadits Anas bin Malik ra.

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيدَ بِالْمُصَلَّى مُسْتَتِرًا بِحَرْبَةٍ

Anas bin Malik ra. berkata: Rasulullah saw. shalat hari raya di tanah lapang dengan bersutrah tombak.

Hr. Ibnu Majah: 1306.

Atsar Umar ra.

وَعَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ قَالَ: رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يُصَلِّي فِي الْكَعْبَةِ وَلاَ يَدَعُ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ

Shalih bin Kaisan berkata: Aku menyaksikan Ibnu Umar ra. shalat di Ka’bah, dan ia tidak membiarkan seorang melintasi di depannya.

Hr. Abu Zur’ah dalam Tarikh Damaskus: 1/91; Ibnu Asakir dalam Tarikh Damaskus: 8/106.

Atsar Anas bin Malik ra.

وَعَنْ يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيْرٍ قَالَ: رَأَيْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ دَخَلَ الْمَسْجِدَ الْحَرَامِ, فَرَكَزَ شَيْئًا أَوْ هَيَّأَ شَيْئًا يُصَلِّي إِلَيْهِ

Yahya bin Abi Katsir berkata: Aku menyaksikan Anas bin Malik ra. memasuki masjid Haram, lalu ia menancapkan sesuatu untuk sutrah shalatnya.

Hr. Ibnu Sa’ad: 7/18.

Fungsi Sutrah

Rasulullah saw. sendiri yang menjelaskan bahwa fungsi sutrah agar tidak dilintasi oleh seseorang sehingga dapat mengganggu shalatnya, bahkan agar tidak dapat merusak shalatnya.

Hadits Ibnu Umar ra.

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُصَلِّ إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلَا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ

Dinararasikan Ibnu Umar ra., Rasulullah saw. bersabda: Janganlah anda shalat kecuali pada sutrah, dan jangan membiarkan seseorang melintasi di depannya. Jika telah dihadang namun ia tetap hendak melintasi, maka bunuhlah. Sesungguhnya ia disertai temannya (setan).

Hr. Muslim: 506; Ibnu Khuzaimah: 800; Ibnu Hibban: 2362; dan Ibnu Majah: 955.

Hadits Abu Sa’id al-Khudri ra.

وَعَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ قَالَ: (رَأَيْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ يُصَلِّي إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنْ النَّاسِ, فَأَرَادَ شَابٌّ مِنْ بَنِي أَبِي مُعَيْطٍ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ, فَدَفَعَ أَبُو سَعِيدٍ فِي صَدْرِهِ, فَنَظَرَ الشَّابُّ فَلَمْ يَجِدْ مَسَاغًا إِلَّا بَيْنَ يَدَيْهِ فَعَادَ لِيَجْتَازَ, فَدَفَعَهُ أَبُو سَعِيدٍ أَشَدَّ مِنْ الْأُولَى, فَنَالَ مِنْ أَبِي سَعِيدٍ) (ثُمَّ زَاحَمَ النَّاسَ فَخَرَجَ فَدَخَلَ) (عَلَى مَرْوَانَ فَشَكَا إِلَيْهِ مَا لَقِيَ مِنْ أَبِي سَعِيدٍ, وَدَخَلَ أَبُو سَعِيدٍ خَلْفَهُ عَلَى مَرْوَانَ, فَقَالَ لَهُ مَرْوَانُ: مَا لَكَ وَلِابْنِ أَخِيكَ يَا أَبَا سَعِيدٍ؟ فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:) (إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ, وَلْيَدْنُ مِنْهَا, وَلَا يَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ, فَإنْ) (أَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ) (مَا اسْتَطَاعَ, فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ, فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ) وَفِي رِوَايَةٍ: (فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ)

Abu Shalih al-Samman berkata: (Aku menyaksikan Abu Said al-Khudri sewaktu shalat Jum’at menghadap pada suatu sutrah. Tiba-tiba seorang pemuda dari bani Abi Mu’ait hendak melintasinya. Lalu ia menahannya. Lalu pemuda itu memandangnya dan ia tidak mendapatkan ruang lain maka ia hendak melintasi di depannya. Lalu Abu Sa’id mendorong dadanya. Pemuda itu masih tidak mendapatkan ruang lain lalu ia hendak melintasinya lagi. Maka Abu Sa’id mendorongnya lebih keras lagi. Akhirnya ia dicaci maki orang) (bahkan umat berkerumun keluar masuk) (untuk melapor kepada Marwan terhadap perilaku Abu Sa’id. Akhirnya Abu Sa’id mengikuti menemui Marwan di belakang mereka. Marwan berkata: Apa yang anda perlakukan terhadap putra saudaramu sendiri? Abu Sa’id menjawab: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:) (Jika salah seorang di antara kalian shalat pada sutrah, hendaklah ia mendekatinya, dan jangan membiarkan seseorang melintasi di depannya). (Jika ada orang yang hendak melintasinya, supaya dihadang) (semampunya. Jika ia enggan, maka perangilah. Sesungguhnya ia bersama temannya (setan). Dalam riwayat lain, (ia didampingi setan).

Hr. Bukhari: 487; Muslim: 505, 506; Abu Dawud: 697, 700; Nasai: 4862; Nasai dalam Kubra: 833; Ibnu Majah: 954, 955; Ahmad: 5585, 11625.

Hadits Abu Juhaifah ra.

عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ وَهْبِ بْنِ عَبْدِ اللهِ السُّوَائِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: (رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) (بِمَكَّةَ وَهُوَ بِالْأَبْطَحِ) (فِي قُبَّةٍ حَمْرَاءَ مِنْ أَدَمٍ) (فَلَمَّا كَانَ بِالْهَاجِرَةِ خَرَجَ بِلَالٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَنَادَى بِالصَّلَاةِ) (ثُمَّ رَأَيْتُ بِلَالًا أَخَذَ عَنَزَةً) (فَجَاءَهُ بِلَالٌ فَآذَنَهُ بِالصَّلَاةِ, ثُمَّ خَرَجَ بِلَالٌ بِالْعَنَزَةِ حَتَّى رَكَزَهَا بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْأَبْطَحِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ) (فَخَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حُلَّةٍ حَمْرَاءَ ((بُرُودٌ يَمَانِيَةٌ قِطْرِيٌّ) (مُشَمِّرًا) (كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ سَاقَيْهِ) (فَصَلَّى إِلَى الْعَنَزَةِ بِالنَّاسِ) (الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ, وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ) (وَرَأَيْتُ النَّاسَ وَالدَّوَابَّ يَمُرُّونَ بَيْنَ يَدَيْهِ مِنْ وَرَاءِ الْعَنَزَةِ) وَفِي رِوَايَةٍ: (يَمُرُّ مِنْ وَرَائِهَا الْكَلْبُ, وَالْمَرْأَةُ, وَالْحِمَارُ) (ثُمَّ لَمْ يَزَلْ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعَ إِلَى الْمَدِينَةِ

Abu Jahaifah -Wahab bin Abdullah al-Suwa’i ra-. berkata: (Aku menyaksikan Rasulullah saw.) (di wilayah Abtha di Mekah) (yakni di kubah merah yang terbuat dari kulit). (Saat datang waktu Dzuhur, Bilal keluar dan adzan) (Lalu aku menyaksikan ia membawa tombak kecil) (Lalu Nabi didatangi Bilal lalu ia mengumandangkan adzan. Lalu ia membawa tombak kecil, lalu ia tancapkan di hadapan Rasulullah saw. di wilayah Abtha tersebut dan shalat) (Rasulullah saw. keluar dengan membawa sajadah merah) (beludru Yaman buatan Qitri) (yang penuh wibawa) (Seakan aku melihat putih lengannya) (Lalu beliau shalat bersutrah tongkat kecil itu bersama umat) (Yakni shalat Dhuhur dua rakaat, dan Ashar juga dua rakaat) (Dan aku menyaksikan binatang-binatang berkeliaran di balik sutrah itu). Dalam riwayat lain: (Ada anjing, wanita dan keledai) (Dan Nabi saw. terus shalat dua rakaat sampai beliau kembali ke kota Madinah).

Hr. Bukhari: 369, 473, 477, 607, 608, 639, 3566, 5786; Muslim: 503; Abu Dawud: 520, 688; Tirmidzi: 197; Nasai: 470, 772; Ahmad: 18768, 18773, 18782.

Hadits Talhah bin Ubaidillah ra.

وَعَنْ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: (كُنَّا نُصَلِّي وَالدَّوَابُّ تَمُرُّ بَيْنَ أَيْدِينَا, فَذَكَرْنَا ذَلِكَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) (فَقَالَ: إِذَا وَضَعَ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ وَلَا يُبَالِ مَنْ مَرَّ وَرَاءَ ذَلِكَ (

Talhah bin Ubaidillah ra. berkata: (Kami shalat sementara berbagai binatang melintasi di hadapan kami. Lalu kami mengadu kepada Rasulullah saw.) (Maka Nabi bersabda: Jika seorang di antara kalian telah meletakkan sutrah sebatas pelana kendaraan silahkan dan tak perlu menggubris siapa saja yang melintasi sesudahnya).

Hr. Muslim: 499; Abu Dawud: 685; Tirmidzi: 335, dan Ibnu Majah: 940.

Warning Melintasi Orang Shalat

Itulah sebabnya Rasulullah saw. melarang keras seseorang melintasi temannya yang sedang shalat, bahkan ia sabar menunggu selesainya, maka hal itu lebih baik baginya.

Hadits Abdullah bin Harits ra.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ الصِّمَّةِ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيْ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ, خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ, قَالَ أَبُو النَّضْرِ: لَا أَدْرِي, أَقَالَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا, أَوْ شَهْرًا, أَوْ سَنَةً.

Dinarasikan Abdullah bin Harits bin Shimah al-Anshari ra., Rasulullah saw. bersabda: Sekiranya orang yang melintasi shalat tahu dosanya, tentu ia berhenti selama empat puluh, maka itu lebih baik baginya. Abu Nadhar berkata: Aku tidak tahu maksudnya, apakah selama empat puluh hari atau bulan atau tahun.

Hr. Bukhari: 488, dan Muslim: 507.

Di Antara Pembatal Shalat Jika Dilintasi Wanita

Bahkan shalat seseorang akan batal jika dilintasi oleh wanita.

Hadits Abu Hurairah ra.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقْطَعُ الصَّلَاةَ: الْمَرْأَةُ، وَالْحِمَارُ، وَالْكَلْبُ، وَيَقِي مِنْ ذَلِكَ مِثْلُ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ

Dinarasikan Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda: Yang bisa membatalkan shalat adalah wanita, keledai dan anjing. Semua itu dapat disiasati dengan sutrah sebatas pelana kendaraan.

Hr. Muslim: 511; Ibnu Majah: 950; Ahmad: 7970, dan Baihaqi: 3299.

Walaupun Nabi Telah Mengambil Sutrah, Setan Masih Mengganggunya

Penulis heran, di antara hikmah peletakan sutrah yang dijelaskan dalam empat puluh empat kesalahan dalam shalat adalah juga untuk setan. Penulis belum pernah membaca haditsnya. Justru yang penulis temukan adalah sebaliknya. Walaupun Rasulullah saw. telah membuat sutrah dalam shalatnya, namun beliau tetap diganggu setan.

Hadits Abu Darda’ ra.

وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: (قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) (يُصَلِّي) (فَسَمِعْنَاهُ يَقُولُ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنْكَ ثُمَّ قَالَ: أَلْعَنُكَ بِلَعْنَة اللهِ, أَلْعَنُكَ بِلَعْنَة اللهِ, أَلْعَنُكَ بِلَعْنَة اللهِ, وَبَسَطَ يَدَهُ كَأَنَّهُ يَتَنَاوَلُ شَيْئًا, فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ الصَلَاةِ قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ, قَدْ سَمِعْنَاكَ تَقُولُ فِي الصَلَاةِ شَيْئًا لَمْ نَسْمَعْكَ تَقُولُهُ قَبْلَ ذَلِكَ, وَرَأَيْنَاكَ بَسَطْتَ يَدَكَ, قَالَ: إِنَّ عَدُوَّ اللهِ إِبْلِيسَ جَاءَ بِشِهَابٍ مِنْ نَارٍ لِيَجْعَلَهُ فِي وَجْهِي, فَقُلْتُ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنْكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ, ثُمَّ قُلْتُ: أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللهِ التَّامَّةِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ, فَلَمْ يَسْتَأخِرْ) (فَأَخَذْتُ بِحَلْقِهِ فَخَنَقْتُهُ) (فَمَا زِلْتُ أَخْنُقُهُ حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ لُعَابِهِ بَيْنَ إِصْبَعَيَّ هَاتَيْنِ الْإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا) (ثُمَّ أَرَدْتُ أَنْ آخُذَهُ, فَوَاللهِ لَوْلَا دَعْوَةُ أَخِينَا سُلَيْمَانَ عليه السلام لَأَصْبَحَ) (مَرْبُوطًا بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ) (يَلْعَبُ بِهِ وِلْدَانُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ) (فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ لَا يَحُولَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ أَحَدٌ فَلْيَفْعَلْ)

Abu Darda’ ra. berkata: (Rasulullah saw. berdiri) (untuk shalat) (Tiba-tiba kami mendengarkan beliau berucap: Aku berlindung kepada Allah darimu. Lalu beliau juga berucap: Semoga anda terlaknat dengan laknat Allah (diucapkan 3x) seraya membentangkan tangannya seakan hendak meraih sesuatu. Seusai shalat kami bertanya: Wahai Rasulullah, sewaktu shalat kami mendengar tuan mengucapkan sesuatu yang belum pernah kami mendengar sebelumnya dan kami juga menyaksikan tuan hendak meraih sesuatu dengan tangan. Maka Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya iblis musuh Allah mendatangi aku dengan membawa meteor dari api yang hendak ia timpakan pada wajahku. Lalu aku berucap: Aku berlindung kepada Allah darimu sebanyak tiga kali. Lalu aku mengucapkan: Semoga anda terlaknat dengan laknat Allah yang sempurna sebanyak tiga kali, maka dia tidak juga mundur) (Lalu aku mengambil temali dan aku jerat) (dalam dalam kondisi seperti itu sampai aku dapatkan rasa dingin liurnya pada kedua jemariku ini, yakni pada ibu jari dan telunjuk) (Lalu aku hendak menyiksanya, namun demi Allah sekiranya bukan karena doa saudaraku Sulaiman as., ingin rasanya di pagi hari) (aku pertontonkan dalam kondisi terikat pada salah satu tiang masjid) (yang dapat dipermainkan oleh anak-anak penduduk Madinah) (Maka barangsiapa di antara kalian yang mampu berdinding antara dia denga arah kiblatnya, supaya menjalaninya).

Hr. Muslim: 542; Ibnu Hibban: 2349; Abu Dawud: 699; Nasai: 1215; dan Ahmad: 11797.

Doa Nabi Sulaiman as. yang dimaksudkan adalah:

رَبّ هَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي

Ya Tuhanku berikanlah kekuasaan padaku yang tak patut seorangpun memilikinya setelah aku. Hr. Bukhari: 461 dari Abu Hurairah ra.

Kesimpulan

Dari hadits-hadits di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. 1. Ada perintah dari Nabi saw. agar orang yang shalat menggunakan sutrah. Dalam menggunakan sutrah agar dekat dengannya (dalam batas sutrah itu).
  2. 2. Fungsi sutrah ialah membatasi atau menghalangi agar di muka orang yang sedang shalat tidak dilalui orang lain, karena sangat mengganggu orang yang sedang shalat tersebut. Lewat di depan orang yang sedang shalat dalam batas sujudnya (sutrah) dikategorikan sebagai perbuatan setan.
  3. 3. Jika orang sedang shalat kemudian ada orang yang mau lewat di depannya dengan melangkahi sutrah, orang yang sedang shalat tersebut boleh menjulurkan tangannya ke depan, agar orang itu tidak lewat di depannya.
  4. Perintah pembuatan sutrah ini tidak menunjukkan keharusan, karena dalam suatu kesempatan Nabi tidak menggunakan sutrah apapun, seperti ketika Nabi saw. shalat dan Aisyah berbaring seperti jenazah di hadapannya.

Hadits Aisyah

عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ: (ذُكِرَ عِنْدَ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهَا – مَا يَقْطَعُ الصَلَاةَ، فَقَالُوا: يَقْطَعُهَا الْكَلْبُ وَالْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ) (فَقَالَتْ: شَبَّهْتُمُونَا بِالْحُمُرِ وَالْكِلَابِ؟، وَاللهِ لَقَدْ) (لَقَدْ رَأَيْتُنِي مُضْطَجِعَةً عَلَى السَّرِيرِ, فَيَجِيءُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, فَيَتَوَسَّطُ السَّرِيرَ فَيُصَلِّي) (صَلَاتَهُ مِنْ اللَّيْلِ كُلَّهَا) (عَلَى الْفِرَاشِ الَّذِي يَرْقُدُ عَلَيْهِ هُوَ وَأَهْلُهُ) (وَأَنَا مُعْتَرِضَةٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ) (كَاعْتِرَاضِ الْجَنَازَةِ) (وَرِجْلَايَ فِي قِبْلَتِهِ) (فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَسْجُدَ غَمَزَ رِجْلَيَّ فَضَمَمْتُهَا إِلَيَّ ثُمَّ يَسْجُدُ) (فَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا) (فَإِذَا بَقِيَ الْوِتْرُ) (مَسَّنِي بِرِجْلِهِ فَعَرَفْتُ أَنَّهُ يُوتِرُ)

Masruq berkata: (dikatakan kepada Aisyah apa-apa yang dapat membatalkan shalat. Mereka mengabarkan, yakni anjing, keledai dan wanita) (Maka Aisyah berkata: Kenapa kalian samakan kami dengan keledai dan anjing) (Demi Allah aku persaksikan tidur terlentang di atas tikarku, lalu Nabi datang, beliau berdiri di posisi tengah tikarku lalu shalat) (yakni shalat sepanjang malamnya) (pada tikar yang biasa dipakai tidur sekeluarga) (sementara aku telentang antara beliau dan arah kiblatnya seperti jenazah) (posisi kakiku di arah kiblatnya) (Apabila Nabi hendak sujud, maka beliau menggoyang kakiku, lalu aku melipatnya dan beliau pun sujud) (Apabila Nabi berdiri, maka kakiku aku selonjorkan lagi) (Jika hendak shalat witir) (Nabi menyepak aku dengan kakinya, maka aku pun faham beliau hendak shalat witir).

Hr. Bukhari: 375, 376, 486, 489, 490, 492, 493, 952; Muslim: 512, 744; Abu Dawud: 711, 712; Nasai: 166, 167; Ibnu Majah: 956; Ahmad: 24134, 25191, 25984, 26277.

EDITOR : ADMIN

SILAHKAN IKUTI KAMI & SHARE KE SESAMA - SEMOGA BERMANFAAT :
error: MAAF !!